Life

Karena Saat Itu Masih Muda

Aku pernah sangat jujur dengan guru kelasku waktu di SD karena aku tidak suka cara mengejarnya. Saat itu, aku masih terlalu muda untuk tahu bagaimana cara menyampaikan ketidaksukaanku dan dengan polosnya aku mengatakannya secara langsung. Akhirnya, aku membuat orangtuaku merasa tidak enak hati dengan guru kelasku yang tidak lain adalah tetanggaku sendiri. Aku juga pernah marah ke teman dekatku di SD karena aku jadi orang terakhir yang tahu tentang hubungannya dengan seorang teman laki-laki. Karena terlalu muda, aku berpikir bahwa teman perlu tahu segalanya padahal nyatanya tidak, dan mungkin mulai saat itulah aku menghargai prinsip saling percaya. Jika aku tidak tahu tentangmu maka, kamupun tidak perlu tahu apapun tentangku.

Aku pernah sangat berani menyiramkan air minum ke muka teman laki-laki sekelasku, karena dia menggangguku ketika sedang minum. Aku juga pernah memukul teman laki-laki sekelasku hingga dia menangis, karena dia terlalu penakut untuk melawan olokan teman sekelas yang menjodoh-jodohkan kami. Aku juga pernah berani melawan teman laki-laki sekelasku yang selalu membully teman-teman perempuanku atau menolak permintaan mereka untuk mengerjakan PRnya atau mengingatkan teman sekelasku yang membolos atau merokok di sekitar sekolah. Ya, waktu itu aku masih muda dan begitu berani melakukan hal-hal yang kurasa bisa selesai jika aku berani melawan. Nyatanya, saat ini aku jadi penakut dan mengganggap keberanian hanyalah milik orang yang punya kuasa untuk melawan.

Aku pernah menangis tersedu-sedu di kelas Bahasa Inggris karena masih merasa down karena nilai UTS Kimiaku 25 dan aku harus mengulang mengerjakannya sebanyak 7 kali. Aku juga pernah menangis tersedu di depan kelas, kelas X SMA karena tahu aku akan berpisah dengan sahabat-sahabatku meskipun pada akhirnya temanku mengajukan pindah kelas demi sekelas denganku. Aku bahkan pernah menangis karena kesulitan mengerjakan soal logaritma dan ketakutan kalau hanya aku yang tidak bisa mengerjakannya. Aku dulu sering menginap di rumah teman dekatku, bercerita tentang idol KPOP dan esok harinya menikmati matahari terbit. Aku dulu pernah menyukai temanku dimana tidak ada seorangpun yang tahu soal perasaanku. Lagi-lagi semua terjadi karena saat itu masih terlalu muda, terlalu belum tahu kalau dunia tidak hanya berputar mengitariku dan kenyataan bahwa perasaan ketika dewasa menjadi lebih rumit.

Banyak hal yang terjadi ketika aku masih terlalu muda. Terlalu muda untuk bisa mencerna situasi dengan baik dan terlalu naif untuk percaya bahwa dunia ini begitu baik. Saat inipun, banyak hal yang telah terjadi. Mungkin saja, banyak pemikiran salah yang aku pahami saat ini, yang nantinya akan aku anggap sebagai kesalahan karena masih terlalu muda untuk memahaminya. Sepertinya aku tidak sabar untuk menyadari kesalahanku saat ini nantinya.

Advertisements
Life · Photo

Langit

Langit selalu indah. Jika ditanya kenapa, akupun tidak tahu alasannya. Yang jelas, ketika bumi terlalu melelahkan untuk diperjuangkan ada langit yang selalu setia di atas sana, menunggu, untuk sesekali dilihat. Entah mantra apa yang dimiliki langit, setiap kali kehidupan terasa sangat sulit dan melelahkan, melihat langit adalah hal yang paling mendamaikan, terlebih langit senja.

Langit senja adalah ciptaan Tuhan yang selalu membuatku bertanya “maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” ketika aku melihatnya. Akupun mengakui bahwa langit senja tetap saja indah meskipun dinikmati sendiri, bahkan aku lebih suka menikmatinya sendiri, sambil terkagum-kagum melihatnya. Selama beberapa saat, aku seringkali termenung seperti jiwaku menyatu dengan langit senja. 

Life

Perhitungan 

Bukankah sebuah perhitungan hanya terjadi ketika ada nilai atau harga yang jelas? Sedangkan untuk membeli kejelasan dibutuhkan harga yang pantas. Lalu, bagaimana seharusnya perhitungan ini dimulai supaya segera berakhir tanpa ada yang merugi? 

Life

Ngeret: Kearifan Lokal Masyarakat Pesisir Pantai Kebonagung, Pacitan

Sedikit cerita tentang pengalaman KKN hari keempat. 

Ngeret atau bisa disebut menyeret atau menarik sesuatu. Ngeret adalah salah satu potret gotong royong di Pacitan tepatnya di Pantai Dangkal,  Kebonagung. Ngeret dimulai dengan menebar jala di tengah laut yang dilakukan oleh para nelayan dengan menggunakan perahu. Setelah jala tersebar, ditunggu selama beberapa menit, kemudian ditarik ke pantai dengan menggunakan tali yang terhubung langsung dengan jala. Jala ditarik dari dua arah. Untuk menarik tali yang panjangnya beratus-ratus meter dari tengah laut, dibutuhkan tenaga yang cukup banyak,  dimana tenaga nelayan saja tidak cukup untuk menariknya. Oleh karena itu, dalam proses menarik jala yang telah disebar para nelayan dibantu oleh warga sekitar. Mereka berbondong-bondong membantu nelayan menarik jala sampai memasuki bibir pantai. 

Sebelum akhirnya jala masuk ke bibir pantai, para nelayan akan berjalan ke tengah laut untuk menarik jala ke bibir pantai. Ketika nelayan menarik jala dari tengah pantai, para warga membantu dengan tetap menarik tali yang terhubung dengan jala. Setelah jala memasuki bibir pantai,  para nelayan mengangkutnya ke dalam keranjang atau kotak ikan menuju rumah-rumahan yang ada di tepi pantai. Hasil yang di dapat dari ngeret kemudian dibagi oleh nelayan menjadi sejumlah orang yang membantu mengeret. Khusus nelayan,  akan mendapatkan bagian yang lebih banyak. Beberapa ikan yang besar hasil ngeret biasanya akan dibeli oleh pengunjung pantai.

Sebelum akhirnya kemarin ikut ngeret,  sesungguhnya saya sudah tahu apa itu ngeret. Awalnya mengira kalau ngeret tidak seberat itu,  dan ternyata ketika mencobanya sendiri rasanya luar biasa. Gesekan tangan dengan tali ditambah beratnya beban yang ditarik karena terombang-ambing ombak membuat tangan terasa sangat panas dan bisa saja terluka. Hal yang mengagetkan saya ketika ngeret adalah pembagian hasilnya,  dimana orang-orang yang membantu ngeret akan mendapatkan bagiannya yang sudah dibagi oleh nelayan.

Life

Kenangan Tidak Akan Terulang

Kenangan tidak dapat diulang dengan cara apapun. Meskipun secara fisik sama, ada banyak hal yang tidak bisa dikendalikan untuk terulang dengan sama. Banyak rangkaian hal di luar diri kita yang tidak bisa disamakan hanya dengan menyamakan bentuk fisiknya. 

Kenangan, mungkin saja tidak untuk diulang,  akan tetapi untuk diingat. Diingat ketika berada pada suatu titik yang sama. Entah tempat,  orang,  emosi ataupun motivasi yang sama. Sehingga,  pemaknaan terhadap semua hal yang terjadi dalam kehidupan ini menjadi begitu penting untuk menciptakan banyak kenangan. Ya,  mungkin saja ketika kita tidak benar-benar memaknainya akan ada banyak hal yang terjadi tanpa terkenang dan hilang begitu saja. 

Life

Another Journey

KKN. Kurasa kali ini aku akan menjalani fase kehidupan yang berbeda. Selama 1,5 bulan akan ada banyak cerita baru,  pengalaman baru,  dan semoga saja bisa menjadi pembelajaran untuk memperbaiki diri. Rasanya masih tidak siap untuk menjalaninya,  untuk terjun langsung ke masyarakat mengaplikasikan ilmu yang selama ini hanya sebatas teori. 

Hampir 22 tahun kehidupanku sepertinya tidak sanggup membunuh kekahawatiranku menghadapi fase kehidupan yang baru ini. Padahal, jika dipikir selama hampir 22 tahun besar di lingkungan masyarakat. Entah sesesorang yang anti sosial atau sosialis nyatanya seseorang tidak pernah terlepas dari sosialnya. Bahkan Aristoteles berkata bahwa manusia adalah makhluk sosial,  yang meskipun manusia menghidar dari sosialnya bukan berarti dia menjadi makhluk non sosial. 

Fase kehidupan kali ini, mungkin akan mengajariku atau bahkan menyadarkanku tentang sesuatu yang menjadi penting dalam kehidupan. Meskipun untuk sekarang, untuk hari pertama ini masih ada banyak kebingungan tentang ini dan itu, kuharap proses yang akan berjalan selanjutnya mampu terkenang.