Abandoned Voices

When night comes
Those little voices getting louder
Telling the world
“I am exist”
But, no one listen
No one care
It’s better to sleep
Because, tomorrow will be tiring day

Advertisements

Hati-hati dengan Kata-Kata yang Indah

Kata-kata yang indah seringkali hanya pembenaran, pengingkaran, penyembuhan, pelampiasan, pelarian, persembunyian dan segala hal yang hanya mampu diwujudkan dalam kata-kata. Nyatanya, apa yang menjadi bijaksana dan dirasa benar dalam kata-kata bukan kebenaran yang boleh diyakini tanpa dipertimbangkan. Kata-kata tidak sepenuhnya pemikiran objektif, yang lahir tanpa misi tertentu dari pemiliknya- misi meyakinkan dunia bahwa apa yang menjadi perspektifnya adalah benar meskipun, kenyataannya adalah pembenaran.  Dan, beberapa orang seringkali merasa tergerak untuk meyakininya, karena kata-katanya dikemas dalam kebijaksanaan. Bagi orang-orang yang mudah terhanyut oleh kata-kata indah yang terkesan bijaksana, aku menyarankan untuk mempertimbangkannya, tidak memujanya lalu menganggapnya sebagai kutipan bijaksana yang sakral dan perlu diingat setiap hari.

Tidak. Mungkin memang tidak begitu. Mungkin apa yang dikatakan orang-orang benar. Mereka maha tahu, tidak perlu bertanya, perihal apa yang aku pikirkan ketika bangun di pagi hari. Aku, siapa?
Memang mereka peduli? Mungkin saja mereka lebih peduli, daripada diriku. Kalaupun sempat, dan aku mengizinkannya, mereka mungkin akan menyuapiku makan. Tiga kali sehari, atau seperti kebiasaanku, sekali sehari saja cukup.
Mereka tidak pernah bertanya, apakah aku mimpi buruk di tidurku semalam. Tidak perlu ditanyakan, katanya urusan pribadi. Mereka mulai pandai memilah dan memilih urusan pribadiku, bagian mereka, dan bagianku sendiri. Suatu hari nanti, apa yang aku rasakan, mungkin bukan lagi urusanku, tidak ditentukan olehku. Mereka yang maha tahu, akan membacakannya secara rutin, sesaat setelah aku bangun tidur.

Kadang, kamu tidak benar-benar tahu seberapa jauh kamu bisa melangkah. Juga, seberapa lama kamu bisa bertahan. Karena, kamu mengakhirinya sebelum tahu. Karena, kamu takut. Kamu takut, jika mencoba lebih jauh bukan seberapa kuat dirimu, tapi, akhir dari kekuatan yang bisa kamu keluarkan. Kematian.

Resolusi Kapan-Kapan

Resolusi kapan-kapan yang akan direalisasikan kapan-kapan.

Kapan-kapan aku ingin kursus menjahit, supaya nanti bisa mengajari anak perempuanku menjahit ketika aku sedang libur bekerja. Kapan-kapan aku ingin serius mengajari diriku merangkai bunga, supaya nanti rumahku penuh dengan bunga-bunga indah di vas yang aku rangkai sendiri atau membuat buket bunga untuk seseorang yang aku sayangi. Kapan-kapan aku ingin menulis buku, supaya tulisan sampahku bisa menjadi hal serius, menjadi satu dari sekian buku yang berdert-dereet di rak toko buku. Kapan-kapan aku ingin menjadi volunteer yang mengajar di daerah terpencil seperti mimpi masa kecilku. Kapan-kapan aku ingin mencoba mendaki gunung untuk menguji seberapa payah diriku. Kapan-kapan aku ingin belajar berkebun, menanam sayur atau menanam bunga di halaman depan atau pekarangan belakang rumah.

Suatu sore, dari balik jendela

Aku duduk di dekat jendela, menikmati matahari sore yang lembut setelah melewati dedaunan dari pepohonan yang rimbun di luar. Sesekali aku menoleh keluar, melihat daun-daun kering dan bunga-bunga kecil berjatuhan, dan orang-orang yang berjalan melewati jalanan sepi yang cukup menyenangkan untuk berjalan-jalan sendiri. Beberapa kali aku melihat orang yang sama berjalan melewati jalanan yang sama. Ada yang terlihat kebingungan dan sibuk dengan ponsel genggamnya, ada yang tergesa-gesa dengan langkah kakinya. Di tengah aktivitasku membaca tulisan yang tidak begitu kupahami, aku begitu menikmati pemandangan luar yang membuatku tersenyum dan berpikir tentang banyak hal. Aku bertanya-tanya apa yang orang-orang lewat pikirkan, tujuan mereka, urusan yang membuat mereka terburu-buru melangkah dan mengapa mereka berjalan sendiri. Banyak pertanyaan yang muncul, dan akhirnya kujawab sendiri dengan perkiraanku. 

Aku dari jendela dekat tempat dudukku bisa dengan jelas melihat orang-orang di luar yang lalu lalang, juga kadang ekspresi mereka. Sebenarnya jika mereka mau sedikit saja menoleh ke arahku, mereka juga bisa melihat apa yang aku lakukan, dan mungkin saja ekspresiku. Hanya saja, mereka tidak setertarik diriku yang sedari tadi mengamati dan memperhatikan mereka yang berulang kali melewati jalanan yang sama dengan ekspresi yang berbeda.

 

Tak Tak Tak Bunyi Hujan di Atas Genting

Hujanlah, menyusul tanda yang telah dimunculkan sebelumnya. Tidak perlu ditahan lebih lama karena menungguku terlelap. Lagipula hujan hanya air yang jatuh, kecuali bagi mereka yang terjebak. Terjebak dalam hujan maksudku. Bisa jadi hujan adalah kesialan ke-sekian puluh kali dengan mantra ajaib setiap kali ia turun mencapai bumi. Bunyi tak tak tak yang membangunkan kegelapan tapi juga melelapkan keletihan.

Lagu dan Perasaanku yang Tidak Terdefinisi

Kadang terlalu sulit untuk mendefinisikan perasaan yang sedang bergejolak dalam diriku sendiri. Ingin menyebutnya sebagai perasaan sedih nyatanya tidak ada yang menyedihkan, ingin menyebutnya perasaan kecewa tapi nyatanya tidak ada yang tidak sesuai harapan. Perasaan mungkin terlalu kompleks untuk bisa dijelaskan hanya dengan satu ungkapan rasa. Tapi, ada hal sederhana yang selalu berhasil untukku menyadari perasaanku. Memutar lagu secara random. Karena tidak tahu lagu apa yang sesuai dengan perasaanku, maka biasanya aku akan memutarnya secara random dan mendengarkan semuanya. Ketika lagu demi lagu mengalun di telingaku, beberapa diantaranya akan terdengar berbeda, seperti mengatakan apa yang kurasakan. Setelah kudapatkan lagu yang sesuai, biasanya aku akan memutarnya dalam mode repeat untuk menikmati perasaanku yang diceritakan secara berulang-ulang. 

Selamat Tinggal, mungkin.

Beberapa hari ini, ada beberapa hal yang baru aku sadari, dan kemudian aku pikirkan. Dulu, aku menganggap melupakan dan melepaskan seseorang dari hidupku adalah hal yang mudah. Waktu itu, aku merasa bahwa aku bisa benar benar dengan mudah melakukannya tanpa merasa kehilangan. Nyatanya, selama ini aku menutupinya, rasa kehilangan itu. Dan dengan bodohnya, aku menganggap semuanya baik-baik saja, seperti tidak ada yang terjadi dengan diriku. Setelah melepaskan, aku selalu berpikir “Memang hidup begitu, ada yang datang dan ada yang pergi. Ada yang lain yang lebih membuat nyaman untuk menghabiskan waktu dan bercerita.” Mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa memberikan kenyamanan lain di luar batas kemampuanku dan akupun tidak bisa menjanjikan diriku untuk tidak menemukan kenyamanan yang lain. Mungkin ini terasa bodoh dan menyedihkan, tapi aku ingin membiarkan orang lain dengan apa yang membuatnya nyaman. Dan aku, sebagai barang lama harus tahu diri dan pergi untuk memberi kesempatan pada barang baru.

Sejujurnya, hidup memang dipenuhi dengan orang yang datang dan pergi. Dan, bukan salah siapa siapa untuk tidak mempertahankan atau menemukan yang lain. Meskipun semua orang mengatakan “kamu berubah” karena menemukan yang lain, biarlah. Karena, hidup memang begitu. Berubah dan menemukan orang baru.