You

Terimakasih, Telah Menjadi Pribadi yang Menarik

Awalnya aku hanya mengagumi suaramu, yang kunikmati dari barisan sholat taraweh. Kemudian, aku mencoba ingin tahu banyak tentangmu, tentang siapa dirimu. Hingga akhirnya aku tahu, kamu suka menulis, aku menemukan blogmu dengan rangkaian kata-kata indah yang menjadi sihir untukku. Dan karena itu, aku menyukaimu (mungkin). Akan tetapi, aku sedikit kecewa. Kamu menulis tentang seseorang, seseorang dari masa lalumu. Seseorang yang kurasa telah menjadi candu dalam setiap tulisanmu dan mengambil alih kendali hatimu yang karenanya, aku merasakan perasaan aneh: sesak dan sempit.

Terimakasih, karena sudah menjadi pribadi yang menarik untuk aku kagumi dan mungkin saja, aku sukai. Kamu telah menyadarkanku dan menyelamatkanku- dari masa laluku.

You

Tulisan Terakhir 

Racun yang sesungguhnya bukan dirimu. Akan tetapi, pemikiranku tentang dirimu yang belum rela kulepaskan atau aku sendiri yang selalu mencari cara untuk tidak melepaskan. Bagaimanapun, segala sesuatu akan menemui akhirnya. Maka, aku akan mengakhirinya, karena memang layak untuk diakhiri tanpa perlu pembenaran lagi.

Kuharap, ini adalah tulisanku terkahir tentang mu. 

Poem · You

Aku mencintaimu,

seperti goresan tinta hitamku beberapa detik lalu, berbekas

 Lalu kering beberapa detik setelahnya. 

Aku suka menulis, dan seringkali membaca. 

Aku suka melupakan, dan seringkali mengingat. 

Dua hal yang mambuatmu laku, 

saat berjual beli denganku. 

Poem · You

Selangkahpun Kita Tak Mendekat

Mendung selalu saja begitu, datang ketika ku tak ingin.

Melarikan kenangan yang kemudian menggenang. Menenggelamkan perlahan.

//

Sepanjang trotoar dengan pohon teduh adalah kita. Ketika takdir

meminta angin untuk memisahkan dua langkah kaki yang tidak pernah jauh.

Suara penjaja makanan riuh menertawai. Menggugurkan dedaunan kering,

beberapa di antaranya adalah waktu yang telah berlalu.

//

Terlambat lariku mengejar pergimu.

Ramai, tak kunjung usai menghentikan langkahku.

Mari berhenti saja. Sejauh apapun daratan mengenal langkahku,

selangkahpun kita tak mendekat.

 

You

Berhitung Tentangmu

Satu. Aku menyukaimu.

Dua. Aku sangat menyukaimu.

Tiga. Aku menyadari, menyukaimu adalah kebodohan.

Empat. Kau melumpuhkan logikaku dan kebodohan terus berlanjut.

Lima. Aku menyukai kebodohanku.

Enam. Aku menikmati kebodohanku.

Tujuh. Kurasa kebodohanku berkurang.

Delapan. Kurasa ingatanku tentangmu memudar.

Sembilan. Kurasa aku sudah melepaskanmu.

Sepuluh. Namun, sesekali aku masih suka memanggil kembali ingatanku tentangmu.

You

Dua cangkir kopi pekat dan titik-titik hujan 

Terlalu larut untuk mengingat, dua cangkir kopi pekat di meja kita berdua. “Aku suka kopi”, katamu. Saat itu aku ingin menjawab, “aku tidak suka kopi”. Karena kebohonganku malam itu, selalu ada malam-malam selanjutnya untuk dua cangkir kopi pekat dengan aku dan kamu duduk berhadapan. Setelah beberapa malam yang tak terhitung, kemudian kita berada di sini. Menikmati kopi di meja yang berbeda. Tidak ada cangkirmu yang selalu penuh dengan tawa, atau cangkirku yang sengaja kujaga tetap penuh untuk menikmati waktu panjang berdua. Waktu hanya menyisakan aku sendiri sedangkan kamu, hanya ada sebagai titik-titik hujan yang menempel di jendela kaca.