Other

Random Post

Sekiranya aku meragukanmu, itu tidak lebih daripada aku meragukan diriku sendiri. Mengenai ini dan itu yang tidak bisa aku ceritakan, mungkin alasannya karena aku tidak mempercayaimu. Tapi, itu hanya alasan untuk mengaburkan fakta lain bahwa aku selalu meragukan diriku sendiri. 

Advertisements
Other

Mengenai Kesukaanku

Keadaan ini sepertinya menyadarkanku mengenai kesukaanku, pada sepi. Pada keheningan, tanpa lalu lalang orang-orang yang datang dan pergi. Pada suara musik yang lebih suka aku dengarkan untuk diriku sendiri. Pada jarum jam yang berdetak ketika berpindah dari detik ke detik. Pada suara ketikan yang kadang sulit aku hentikan.

Poem

Langit Sedang Sibuk

Langit sedang sibuk, menyiapkan tempat untuk hujan turun. Butir-butir hujan berjatuhan kesana-kemari seperti cinta pertama yang entah kapan usai. Seirama dengan omelan ibu sore itu, bunyi tak tak tak menyerbu atap dengan berani.

Langit sedang sibuk, mempersiapkan bintang terindah untuk perempuan idamannya. Sang kekasih meminta langit paling indah untuk malam ini. Hai langit, taburkan bintang-bintangmu! Perempuanku inginkan permata yang tak dapat kubeli. Langitpun mengabulkan, ditambahkan bulan purnama di tengah bintang-bintang. Terlihat sang perempuan melengkungkan bibirnya layaknya irisan buah semangka yang tipis menggoda.

Other

Selamat Malam

Dua detik yang bergerak tidak seirama, berbunyi tik tak tik tak tik tak… Radar cemasku seperti semakin bergejolak. Untung saja. Aku tidak menderita gangguan kecemasan. Jika saja iya, mungkin tubuhku sudah berkeringat dingin, perut tiba-tiba sakit, atau ngilu disekujur tubuh.

Apakah ini sudah cukup malam?

Jamku baru 9:49 pm. Kurasa tidak.

Baiklah, mungkin aku harus terjaga sebentar lagi.

Memikirkanmu? Kurasa tidak perlu.

………………………………………………………..

Sekarang jamku 9.54 pm.

Kurasa sudah cukup malam. Selamat malam. Selamat tidur. Semoga tidak hanya mimpimu yang indah. Semoga setelah mimpi yang indah, ada kenyataan yang lebih indah.

Other

Mungkin Saja, 

Hati bisa berubah, kapan saja, tanpa perlu meminta izin. Mungkin hari ini aku ingin menangis saja sejadinya, kemudian di saat yang tidak terduga aku tidak ingin melakukannya, hanya karena segerombolan burung yang berbondong-bondong terbang meninggalkan sarangnya. Mungkin saat ini aku hanya ingin menghilang begitu saja, kemudian sebuah drama yang indah membuatku berpikir untuk melakukan yang sebaliknya. Mungkin saja hari ini aku merasa begitu terkhianati, hingga tak ingin mempercayai dunia yang telah membesarkanku. Kemudian, tanpa terencana seseorang yang asing datang mengatakan kejujuran dan membuatku ingin mempercayainya. Mungkin hari ini aku sangat mencintaimu dan jika bukan kamu aku tidak mau. Tapi, itu hari ini. Masa depan, entah beberapa menit, beberapa jam atau hari kemudian tidak menjanjikan hal yang sama. Mungkin saja, hujan tiba tiba datang membawa seseorang untukku melupakanmu.

Other

Bulan Malam Ini

Bulan malam ini sangat indah. Membuat bayang-bayangku nampak jelas. Dan yang pasti, membuatku melihatnya dan terus melihatnya hingga tengkukku kaku.

Mungkin aku sudah memandanginya barang setengah jam, dengan pikiran yang kosong. Aku sedang tidak ingin memikirkan apapun, baik tentang rencanaku besok pagi atau tentangmu dan hal-hal lain yang tidak berkaitan dengan bulan malam ini. Aku hanya ingin menikmatinya dengan angin yang sibuk wara wiri meniup helai demi helai rambutku. 

You

Terimakasih, Telah Menjadi Pribadi yang Menarik

Awalnya aku hanya mengagumi suaramu, yang kunikmati dari barisan sholat taraweh. Kemudian, aku mencoba ingin tahu banyak tentangmu, tentang siapa dirimu. Hingga akhirnya aku tahu, kamu suka menulis, aku menemukan blogmu dengan rangkaian kata-kata indah yang menjadi sihir untukku. Dan karena itu, aku menyukaimu (mungkin). Akan tetapi, aku sedikit kecewa. Kamu menulis tentang seseorang, seseorang dari masa lalumu. Seseorang yang kurasa telah menjadi candu dalam setiap tulisanmu dan mengambil alih kendali hatimu yang karenanya, aku merasakan perasaan aneh: sesak dan sempit.

Terimakasih, karena sudah menjadi pribadi yang menarik untuk aku kagumi dan mungkin saja, aku sukai. Kamu telah menyadarkanku dan menyelamatkanku- dari masa laluku.

Other

Menyambut Hujan

Aku merindukan tubuh basah yang menari dan terkadang berlari menerobos hujan. Dari yang bisa kuingat, aku pernah dua kali sengaja menari dan berlari-lari di bawah hujan. Rasa sejuk yang terlalu dingin mengalir di sekujur tubuh. Aku sengaja menengadahkan wajahku untuk memeluk hujan terlebih dahulu, sebelum akhirnya dia jatuh dan memeluk bumi. Sesekali aku menutup mata, untuk lebih menikmatinya. Tetes demi tetes yang buru-buru menghampiri wajahku, menghujaninya dengan sedikit rasa sakit. Aku merasakan pembebasan atas kebebasan yang bagiku tidak mungkin hadir dalam semesta ini.

Aku tidak pernah merasakan basah di bawah hujan sendiri. Selalu ada dia, dan dia yang lain. Aku takut. Takut untuk basah kuyup sendiri di bawah hujan. Jika tidak dengan yang lain, aku dengan payungku. Atau, aku bersembunyi di balik jendela untuk mendengar hujan meracau di luar pada benda-benda yang ia hampiri. Aku seringkali lebih menyukai hujan yang kulihat dari balik jendela. Tapi, akhir-akhir ini aku ingin keluar menyambutnya di depan pintu. Berjalan menuruni tangga kemudian berlari di bawahnya.