Krisis Manusia Dewasa

Akhir-akhir ini aku berpikir bahwa menjadi dewasa adalah perkara menyembunyikan mimpi dengan rapat dan menguburnya di suatu tempat untuk tidak ditemukan lagi. Aku merasa telat menyadari dan berlebihan karena memikirkannya. Berulang kali aku meyakinkan bahwa pemikiran ini adalah normal sebagai krisis yang dialami manusia dewasa awal. Erik Erikson dalam tahap perkembangan psikososialnya tidak menyebutkan bahwa krisis yang dialami manusia dewasa awal adalah tentang menyerah pada mimpi dan menjadi individu yang realistis. Seseorang mengatakan padaku bahwa manusia dewasa tidak punya mimpi, dan dia menawarkan diri untuk menyadarkanku pada kenyataan. Dibandingkan mengatakan manusia dewasa tidak mempunyai mimpi, aku lebih suka mengatakan mereka menyembunyikan mimpinya dengan rapat hingga seakan-akan tidak ada. Mereka takut untuk mengakui mimpinya karena, dunia akan menjadikannya bahan tertawaan sehabis menyantap hidangan. Apakah menjadi manusia dewasa sesungguhnya memang tentang menghadapi kenyataan dan melepaskan mimpi-mimpi yang tidak realistis?

Advertisements

Sesusah Itu Ternyata

Sesusah itu ternyata untuk menghargai pengalaman hidup orang lain. Sesusah itu ternyata untuk tidak melibatkan hidupku sendiri untuk melihat bagaimana orang lain menjalani hidupnya. Sesusah itu ternyata untuk menerima seseorang secara utuh, menerima pengalaman hidupnya dan konsekuensi dari pengalaman itu.

Ketika Hidup Mengajariku tentang Hidup

Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup ini selalu mempunyai alasan yang tersembunyi. Kadang, hal yang paling kita benci adalah hal yang paling kita butuhkan untuk terjadi, dan hal yang paling kita suka adalah hal yang lebih baik tidak ada. Hidup tidak pernah berhenti mengajari tentang arti hidup itu sendiri bagi siapa saja yang ingin melihat, berpikir, kemudian menyadari apa yang ingin hidup ajarkan.

Hari ini sepertinya hidup menyadarkanku perihal penting mengenai hidup itu sendiri. Penelitianku yang awalnya kuanggap petaka di usia 20an ternyata tidak sepenuhnya petaka. Tadi sore, setelah berkeliling mengumpulkan data aku berpikir bagaimana jika beberapa bulan yang lalu aku tidak mengambil judul penelitianku yang sekarang. Apakah pemikiranku yang sekarang akan tetap terpikirkan meskipun tanpa melalui penelitianku yang sekarang? Mungkin saja tidak. Bertemu dengan banyak orang karena penelitian, membuatku tahu tentang banyak cerita, entah cerita bahagia ataupun cerita sedih. Secara tidak langsung, cerita yang mereka tuturkan kepadaku masuk ke dalam pemikiranku dan memaksaku untuk meluangkan waktu untuk memikirkannya. Tidak ada cerita tertentu yang membuatku lebih berpikir. Semua cerita yang mereka tuturkan saling berikatan kemudian menjadi rangkaian pelajaran yang masuk dan menduduki ruang tertentu dalam diriku. Luar biasa, pikirku tadi sore dan saat ini ketika memikirkan bagaimana hidup memberikan kejutan dan kesempatan untuk mengenal hidup itu sendiri. Semoga saja kejutan hidup di kesempatan berikutnya tidak sampai membuatku mati karena serangan jantung.

Aku Bosan dan Ingin Pergi

Aku merasa asing dengan ruangan yang sudah 4 tahun ini menyimpan rahasiaku. Ketika terbangun sehabis tidur, aku melihat sekeliling dan merasa asing, terperangkap. Suara-suara di luar yang seharusnya aku kenal, terdengar menakutkan, membuat dadaku sesak. Aku merindukan tempat lain, bukan ruangan ini. Aku menjadi tidak seperti biasanya, takut pada hal yang sudah biasa. Aku kebingungan dengan diriku sendiri. 

Aku begitu bosan dan ingin menghapus apa yang aku ingat hingga, semua menjadi baru. Aku ingin pergi, mendatangi tempat yang aku rindukan. 

Suatu sore, dari balik jendela

Aku duduk di dekat jendela, menikmati matahari sore yang lembut setelah melewati dedaunan dari pepohonan yang rimbun di luar. Sesekali aku menoleh keluar, melihat daun-daun kering dan bunga-bunga kecil berjatuhan, dan orang-orang yang berjalan melewati jalanan sepi yang cukup menyenangkan untuk berjalan-jalan sendiri. Beberapa kali aku melihat orang yang sama berjalan melewati jalanan yang sama. Ada yang terlihat kebingungan dan sibuk dengan ponsel genggamnya, ada yang tergesa-gesa dengan langkah kakinya. Di tengah aktivitasku membaca tulisan yang tidak begitu kupahami, aku begitu menikmati pemandangan luar yang membuatku tersenyum dan berpikir tentang banyak hal. Aku bertanya-tanya apa yang orang-orang lewat pikirkan, tujuan mereka, urusan yang membuat mereka terburu-buru melangkah dan mengapa mereka berjalan sendiri. Banyak pertanyaan yang muncul, dan akhirnya kujawab sendiri dengan perkiraanku. 

Aku dari jendela dekat tempat dudukku bisa dengan jelas melihat orang-orang di luar yang lalu lalang, juga kadang ekspresi mereka. Sebenarnya jika mereka mau sedikit saja menoleh ke arahku, mereka juga bisa melihat apa yang aku lakukan, dan mungkin saja ekspresiku. Hanya saja, mereka tidak setertarik diriku yang sedari tadi mengamati dan memperhatikan mereka yang berulang kali melewati jalanan yang sama dengan ekspresi yang berbeda.

 

Efek Kopi yang Kontradiksi

Kopi. Hal baru yang mulai kukenal ketika terjaga semalaman menjadi sebuah rutinitas. Sang penyelamat untuk beberapa keadaan, misalnya ketika tugas harus ditumpuk besok pagi. Berkat kopi, apa yang harus kuselesaikan malam ini selesai.

Kopi, membantuku terjaga semalaman bahkan ketika aku sudah tidak ingin terjaga. Setelah minum kopi seringkali aku merasa menyesal, karena pada akhirnya aku tetap terjaga bahkan ketika urusanku sudah selesai. Cukup kontradiksi karena tujuanku minum kopi supaya terjaga tapi, setelah terjaga aku membencinya. Dasar manusia banyak maunya! Setelah keinginanku untuk terjaga dan menyelesaikan segala urusan terpenuhi, aku mulai mengeluh kenapa tidak bisa tidur, perut perih dan diare karena maag, dan pada akhirnya menyalahkan kopi. Kopi yang telah berjasa sebelumnya, tiba-tiba saja menjadi penjahat. Penjahat karena sebuah kenaifan yang menganggap konsekuensi sebuah pilihan hanya apa yang diharapkan tanpa berpikir bahwa konsekuensi yang tidak diharapkanpun berhak hadir. 

Meminum kopi adalah pilihan dan terjaga adalah konsekuensinya bahkan jika konsekuensi tersebut sudah tidak dibutuhkan lagi. Setelah urusanku selesai bukan berarti konsekuensi yang muncul dari meminum kopi akan selesai juga meskipun aku menginginkannya untuk selesai. Memangnya dunia ini permainan yang aturannya ditentukan olehmu? Yang ketika sudah bosan bermain, lalu ingin berhenti atau merubah peraturan.
Setiap pilihan ada konsekuensinya, entah konsekuensi yang  diharapkan atau konsekuensi lain yang tidak diharapkan. Nyatanya hidup tidak berputar pada harapan kita saja, ada banyak hal yang tidak diharapkan tapi ikut andil dalam kehidupan kita. Bagaimanapun, apa yang kita pilih saat ini adalah pertimbangan dari konsekuensi yang kita harapkan dengan kemungkinan munculnya konsekuensi yang tidak diharapkan kecuali, dunia ini adalah miikmu.

Terima kasih untuk kopi malam ini yang menyadarkan kebodohanku.

Tak Tak Tak Bunyi Hujan di Atas Genting

Hujanlah, menyusul tanda yang telah dimunculkan sebelumnya. Tidak perlu ditahan lebih lama karena menungguku terlelap. Lagipula hujan hanya air yang jatuh, kecuali bagi mereka yang terjebak. Terjebak dalam hujan maksudku. Bisa jadi hujan adalah kesialan ke-sekian puluh kali dengan mantra ajaib setiap kali ia turun mencapai bumi. Bunyi tak tak tak yang membangunkan kegelapan tapi juga melelapkan keletihan.

Karena Saat Itu Masih Muda

Aku pernah sangat jujur dengan guru kelasku waktu di SD karena aku tidak suka cara mengejarnya. Saat itu, aku masih terlalu muda untuk tahu bagaimana cara menyampaikan ketidaksukaanku dan dengan polosnya aku mengatakannya secara langsung. Akhirnya, aku membuat orangtuaku merasa tidak enak hati dengan guru kelasku yang tidak lain adalah tetanggaku sendiri. Aku juga pernah marah ke teman dekatku di SD karena aku jadi orang terakhir yang tahu tentang hubungannya dengan seorang teman laki-laki. Karena terlalu muda, aku berpikir bahwa teman perlu tahu segalanya padahal nyatanya tidak, dan mungkin mulai saat itulah aku menghargai prinsip saling percaya. Jika aku tidak tahu tentangmu maka, kamupun tidak perlu tahu apapun tentangku.

Aku pernah sangat berani menyiramkan air minum ke muka teman laki-laki sekelasku, karena dia menggangguku ketika sedang minum. Aku juga pernah memukul teman laki-laki sekelasku hingga dia menangis, karena dia terlalu penakut untuk melawan olokan teman sekelas yang menjodoh-jodohkan kami. Aku juga pernah berani melawan teman laki-laki sekelasku yang selalu membully teman-teman perempuanku atau menolak permintaan mereka untuk mengerjakan PRnya atau mengingatkan teman sekelasku yang membolos atau merokok di sekitar sekolah. Ya, waktu itu aku masih muda dan begitu berani melakukan hal-hal yang kurasa bisa selesai jika aku berani melawan. Nyatanya, saat ini aku jadi penakut dan mengganggap keberanian hanyalah milik orang yang punya kuasa untuk melawan.

Aku pernah menangis tersedu-sedu di kelas Bahasa Inggris karena masih merasa down karena nilai UTS Kimiaku 25 dan aku harus mengulang mengerjakannya sebanyak 7 kali. Aku juga pernah menangis tersedu di depan kelas, kelas X SMA karena tahu aku akan berpisah dengan sahabat-sahabatku meskipun pada akhirnya temanku mengajukan pindah kelas demi sekelas denganku. Aku bahkan pernah menangis karena kesulitan mengerjakan soal logaritma dan ketakutan kalau hanya aku yang tidak bisa mengerjakannya. Aku dulu sering menginap di rumah teman dekatku, bercerita tentang idol KPOP dan esok harinya menikmati matahari terbit. Aku dulu pernah menyukai temanku dimana tidak ada seorangpun yang tahu soal perasaanku. Lagi-lagi semua terjadi karena saat itu masih terlalu muda, terlalu belum tahu kalau dunia tidak hanya berputar mengitariku dan kenyataan bahwa perasaan ketika dewasa menjadi lebih rumit.

Banyak hal yang terjadi ketika aku masih terlalu muda. Terlalu muda untuk bisa mencerna situasi dengan baik dan terlalu naif untuk percaya bahwa dunia ini begitu baik. Saat inipun, banyak hal yang telah terjadi. Mungkin saja, banyak pemikiran salah yang aku pahami saat ini, yang nantinya akan aku anggap sebagai kesalahan karena masih terlalu muda untuk memahaminya. Sepertinya aku tidak sabar untuk menyadari kesalahanku saat ini nantinya.

Lagu dan Perasaanku yang Tidak Terdefinisi

Kadang terlalu sulit untuk mendefinisikan perasaan yang sedang bergejolak dalam diriku sendiri. Ingin menyebutnya sebagai perasaan sedih nyatanya tidak ada yang menyedihkan, ingin menyebutnya perasaan kecewa tapi nyatanya tidak ada yang tidak sesuai harapan. Perasaan mungkin terlalu kompleks untuk bisa dijelaskan hanya dengan satu ungkapan rasa. Tapi, ada hal sederhana yang selalu berhasil untukku menyadari perasaanku. Memutar lagu secara random. Karena tidak tahu lagu apa yang sesuai dengan perasaanku, maka biasanya aku akan memutarnya secara random dan mendengarkan semuanya. Ketika lagu demi lagu mengalun di telingaku, beberapa diantaranya akan terdengar berbeda, seperti mengatakan apa yang kurasakan. Setelah kudapatkan lagu yang sesuai, biasanya aku akan memutarnya dalam mode repeat untuk menikmati perasaanku yang diceritakan secara berulang-ulang.