Other

Bulan Malam Ini

Bulan malam ini sangat indah. Membuat bayang-bayangku nampak jelas. Dan yang pasti, membuatku melihatnya dan terus melihatnya hingga tengkukku kaku.

Mungkin aku sudah memandanginya barang setengah jam, dengan pikiran yang kosong. Aku sedang tidak ingin memikirkan apapun, baik tentang rencanaku besok pagi atau tentangmu dan hal-hal lain yang tidak berkaitan dengan bulan malam ini. Aku hanya ingin menikmatinya dengan angin yang sibuk wara wiri meniup helai demi helai rambutku. 

Advertisements
You

Terimakasih, Telah Menjadi Pribadi yang Menarik

Awalnya aku hanya mengagumi suaramu, yang kunikmati dari barisan sholat taraweh. Kemudian, aku mencoba ingin tahu banyak tentangmu, tentang siapa dirimu. Hingga akhirnya aku tahu, kamu suka menulis, aku menemukan blogmu dengan rangkaian kata-kata indah yang menjadi sihir untukku. Dan karena itu, aku menyukaimu (mungkin). Akan tetapi, aku sedikit kecewa. Kamu menulis tentang seseorang, seseorang dari masa lalumu. Seseorang yang kurasa telah menjadi candu dalam setiap tulisanmu dan mengambil alih kendali hatimu yang karenanya, aku merasakan perasaan aneh: sesak dan sempit.

Terimakasih, karena sudah menjadi pribadi yang menarik untuk aku kagumi dan mungkin saja, aku sukai. Kamu telah menyadarkanku dan menyelamatkanku- dari masa laluku.

Other

Menyambut Hujan

Aku merindukan tubuh basah yang menari dan terkadang berlari menerobos hujan. Dari yang bisa kuingat, aku pernah dua kali sengaja menari dan berlari-lari di bawah hujan. Rasa sejuk yang terlalu dingin mengalir di sekujur tubuh. Aku sengaja menengadahkan wajahku untuk memeluk hujan terlebih dahulu, sebelum akhirnya dia jatuh dan memeluk bumi. Sesekali aku menutup mata, untuk lebih menikmatinya. Tetes demi tetes yang buru-buru menghampiri wajahku, menghujaninya dengan sedikit rasa sakit. Aku merasakan pembebasan atas kebebasan yang bagiku tidak mungkin hadir dalam semesta ini.

Aku tidak pernah merasakan basah di bawah hujan sendiri. Selalu ada dia, dan dia yang lain. Aku takut. Takut untuk basah kuyup sendiri di bawah hujan. Jika tidak dengan yang lain, aku dengan payungku. Atau, aku bersembunyi di balik jendela untuk mendengar hujan meracau di luar pada benda-benda yang ia hampiri. Aku seringkali lebih menyukai hujan yang kulihat dari balik jendela. Tapi, akhir-akhir ini aku ingin keluar menyambutnya di depan pintu. Berjalan menuruni tangga kemudian berlari di bawahnya.

Other · Photo

Sabit yang Manis

Sabit pagi ini begitu manis dan nyaris membuatku menangis. Warna merah bata, kemudian oranye yang semakin memudar, selanjutnya warna biru sendu khas langit pagi hari sebelum matahari menyinari dengan senyum terangnya.

Kau hidup sudah berapa lama? Tanyaku pada diri sendiri sambil terus memperhatikan sabit yang manis dan bintang kecil yang bersinar tepat di atasnya. Memangnya kenapa? Tak peduli sudah berapa lama aku hidup, penampilan langit yang selalu indah tidak pernah terlihat kuno dimataku.

Other

Sedang Tidak Baik-baik Saja

Kuharap aku bisa jujur, setidaknya pada diriku sendiri, mengakui bahwa aku sedang tidak baik-baik saja.

Benarkah bahwa aku tidak baik-baik saja? Atau, aku hanya sedang bermain dengan diriku sendiri untuk mengatakan bahwa aku tidak baik-baik saja. Jika aku memang tidak baik-baik saja, hal apakah yang membuatku merasa tidak baik-baik saja. Kosong, aku tidak menemukan jawabannya. Apakah aku memang tidak menemukan jawabannya, atau aku terlalu takut untuk mengakuinya. Terlalu takut mengakui bahwa aku masih belum selesai dengan hal yang sama, masa lalu.

Ketika badai itu datang, aku selalu melakukannya, mendayung perahuku ke masa lalu.

Poem

CCTV Jalanan

Aku duduk di sebuah warung makan dengan pemandangan lalu lalang kendaraan yang sibuk melaju tanpa menyapa. Pandanganku menerawang entah pada kesibukan yang memgucilkanku, atau pada kampung halaman yang kurindukan tapi tak mampu kusampaikan. Sesekali aku menyedot segelas es teh yang masih setengah penuh di hadapanku. Kadang sedotannya kutahan agak lama, sambil memikirkan suatu hal yang menggelisahkan, akan tetapi belum bisa kunamai.

Sekumpulan perempuan di usia tigapuluhan berkumpul di depanku secara bertahap. Awalnya satu, kemudian dua, dan tak lama kemudian jadi empat. Mereka membicarakan ini dan itu, membuatku ingin menyimaknya. Kemudian aku lupa, kalau dari tadi aku sedang sibuk menjadi cctv jalanan dengan gambar blur.