Merencanakan Rumus

Dengarkan! Aku sedang sibuk,
merencanakan rumus paling ampuh,
untuk menerangkan dunia ini padamu.
Supaya kamu, tidak pernah mencelaku,
atau bahkan mengolokku.

Tunggu saja! Besok,
aku akan menjadi si cerdas idamanmu.
Supaya kamu, bisa meyakinkan dunia untuk mempercayaiku,
untuk berpaling sejenak padaku.
Atau setidaknya, kata-kataku bisa menjadi mantra yang menggema,
ketika kamu resah.

Advertisements

Yang Terlupakan

Drama yang indah, selalu riuh dengan suara tepuk tangan.
Menggema sana-sini, diceritakan sepanjang ingatan masih mengingatnya.
Setelah itu, sama saja seperti yang lain,
akan dilupakan.

Sentimental

Telingaku mulai rapuh,
mudah tersentuh dengan suara yang bahkan asing.
Begitupun mataku,
sering tiba-tiba berair ketika terpejam.

Aku suka memandangi punggung orang-orang yang berjalan.
Entah kenapa, membuatku merasa ditinggalkan.
Padahal, kita tidak pernah berjanji untuk saling menunggu.

CCTV Jalanan

Aku duduk di sebuah warung makan dengan pemandangan lalu lalang kendaraan yang sibuk melaju tanpa menyapa. Pandanganku menerawang entah pada kesibukan yang memgucilkanku, atau pada kampung halaman yang kurindukan tapi tak mampu kusampaikan. Sesekali aku menyedot segelas es teh yang masih setengah penuh di hadapanku. Kadang sedotannya kutahan agak lama, sambil memikirkan suatu hal yang menggelisahkan, akan tetapi belum bisa kunamai.

Sekumpulan perempuan di usia tigapuluhan berkumpul di depanku secara bertahap. Awalnya satu, kemudian dua, dan tak lama kemudian jadi empat. Mereka membicarakan ini dan itu, membuatku ingin menyimaknya. Kemudian aku lupa, kalau dari tadi aku sedang sibuk menjadi cctv jalanan dengan gambar blur. 

Aku mencintaimu,

seperti goresan tinta hitamku beberapa detik lalu, berbekas

 Lalu kering beberapa detik setelahnya. 

Aku suka menulis, dan seringkali membaca. 

Aku suka melupakan, dan seringkali mengingat. 

Dua hal yang mambuatmu laku, 

saat berjual beli denganku. 

Kembali

Matahari siang selalu menyenangkan. Malam jadi yang dibenci.
Jika berdoa, alangkah kurangnya siang yang panas. Kalaupun malam terpaksa
datang, mimpi bukan kutukan. Segera ingin pagi dan dijalani.

Jari-jari adalah benda serbaguna. Serba bisa digunakan untuk semua urusan kebahagiaan.
Nyanyian tanpa kesedihan adalah harta. Hilangnya, adalah akhir dari keberanian.
Menandai masa sandiwara panjang yang tak berjeda.

 

Selangkahpun Kita Tak Mendekat

Mendung selalu saja begitu, datang ketika ku tak ingin.

Melarikan kenangan yang kemudian menggenang. Menenggelamkan perlahan.

//

Sepanjang trotoar dengan pohon teduh adalah kita. Ketika takdir

meminta angin untuk memisahkan dua langkah kaki yang tidak pernah jauh.

Suara penjaja makanan riuh menertawai. Menggugurkan dedaunan kering,

beberapa di antaranya adalah waktu yang telah berlalu.

//

Terlambat lariku mengejar pergimu.

Ramai, tak kunjung usai menghentikan langkahku.

Mari berhenti saja. Sejauh apapun daratan mengenal langkahku,

selangkahpun kita tak mendekat.

 

Pada Tiga Hal Yang Aku Suka

20170215_173945

Kepada hujan,

Aku rindu basah olehmu,

Rindu bersembunyi di antara derasmu

//

Kepada langit,

Kau selalu ada di atas sana untuk kulihat,

Kemudian menyadarkanku, bahwa kehidupan tidak pernah mengkhianati

//

Kepada angin,

Terkadang aku ingin memelukmu, hingga pipiku tak lagi basah oleh air mata

Menikmati caramu menyapa tubuku, caramu membuangku pada kenyataan yang kuhindari

//

Pada tiga hal yang kusukai, untuk sekedar menjeda kehidupanku, aku tak perlu mati

untuk sekedar menghiaskan senyum pada wajahku sendiri, aku tak perlu menjadi palsu

untuk bersyukur atas nafas yang sampai saat ini masih lekat, aku tak perlu jauh mencari

Bagaimanapun, aku masih terlalu rapuh untuk menerima kenyataan bahwa kehidupan ini adalah urusan pribadi

Kosong

Masih saja kosong,
Otak yang kuharapkan bisa sedikit cerdas, nyatanya tetap riuh dengan suara yang tak berbekas
Masih saja bimbang,
Ratusan ribu detik sebuah perjalanan bahkan tak mengilhami satu katapun
Sedikit kurenungkan, tentang bagaimana dunia ini membuat aturannya
Bahkan, tentang bagaimana dunia ini akan mati sendiri oleh aturan yang dibuatnya
Tetap saja, kosong,
Ditambah suara dedaunan yang saling menyapa ketika angin menghampiri