Poem

Langit Sedang Sibuk

Langit sedang sibuk, menyiapkan tempat untuk hujan turun. Butir-butir hujan berjatuhan kesana-kemari seperti cinta pertama yang entah kapan usai. Seirama dengan omelan ibu sore itu, bunyi tak tak tak menyerbu atap dengan berani.

Langit sedang sibuk, mempersiapkan bintang terindah untuk perempuan idamannya. Sang kekasih meminta langit paling indah untuk malam ini. Hai langit, taburkan bintang-bintangmu! Perempuanku inginkan permata yang tak dapat kubeli. Langitpun mengabulkan, ditambahkan bulan purnama di tengah bintang-bintang. Terlihat sang perempuan melengkungkan bibirnya layaknya irisan buah semangka yang tipis menggoda.

Advertisements
Poem

CCTV Jalanan

Aku duduk di sebuah warung makan dengan pemandangan lalu lalang kendaraan yang sibuk melaju tanpa menyapa. Pandanganku menerawang entah pada kesibukan yang memgucilkanku, atau pada kampung halaman yang kurindukan tapi tak mampu kusampaikan. Sesekali aku menyedot segelas es teh yang masih setengah penuh di hadapanku. Kadang sedotannya kutahan agak lama, sambil memikirkan suatu hal yang menggelisahkan, akan tetapi belum bisa kunamai.

Sekumpulan perempuan di usia tigapuluhan berkumpul di depanku secara bertahap. Awalnya satu, kemudian dua, dan tak lama kemudian jadi empat. Mereka membicarakan ini dan itu, membuatku ingin menyimaknya. Kemudian aku lupa, kalau dari tadi aku sedang sibuk menjadi cctv jalanan dengan gambar blur. 

Poem · You

Aku mencintaimu,

seperti goresan tinta hitamku beberapa detik lalu, berbekas

 Lalu kering beberapa detik setelahnya. 

Aku suka menulis, dan seringkali membaca. 

Aku suka melupakan, dan seringkali mengingat. 

Dua hal yang mambuatmu laku, 

saat berjual beli denganku. 

Poem

Kembali

Matahari siang selalu menyenangkan. Malam jadi yang dibenci.

Jika berdoa, alangkah kurangnya siang yang panas. Kalaupun malam terpaksa

datang, mimpi bukan kutukan. Segera ingin pagi dan dijalani.

//

Jari-jari adalah benda serbaguna. Serba bisa digunakan untuk semua urusan kebahagiaan.

Nyanyian tanpa kesedihan adalah harta. Hilangnya adalah akhir dari keberanian.

Menandai masa sandiwara panjang yang tak berjeda.

 

Poem · You

Selangkahpun Kita Tak Mendekat

Mendung selalu saja begitu, datang ketika ku tak ingin.

Melarikan kenangan yang kemudian menggenang. Menenggelamkan perlahan.

//

Sepanjang trotoar dengan pohon teduh adalah kita. Ketika takdir

meminta angin untuk memisahkan dua langkah kaki yang tidak pernah jauh.

Suara penjaja makanan riuh menertawai. Menggugurkan dedaunan kering,

beberapa di antaranya adalah waktu yang telah berlalu.

//

Terlambat lariku mengejar pergimu.

Ramai, tak kunjung usai menghentikan langkahku.

Mari berhenti saja. Sejauh apapun daratan mengenal langkahku,

selangkahpun kita tak mendekat.

 

Photo · Poem

Pada Tiga Hal Yang Aku Suka

20170215_173945

Kepada hujan,

Aku rindu basah olehmu,

Rindu bersembunyi di antara derasmu

//

Kepada langit,

Kau selalu ada di atas sana untuk kulihat,

Kemudian menyadarkanku, bahwa kehidupan tidak pernah mengkhianati

//

Kepada angin,

Terkadang aku ingin memelukmu, hingga pipiku tak lagi basah oleh air mata

Menikmati caramu menyapa tubuku, caramu membuangku pada kenyataan yang kuhindari

//

Pada tiga hal yang kusukai, untuk sekedar menjeda kehidupanku, aku tak perlu mati

untuk sekedar menghiaskan senyum pada wajahku sendiri, aku tak perlu menjadi palsu

untuk bersyukur atas nafas yang sampai saat ini masih lekat, aku tak perlu jauh mencari

Bagaimanapun, aku masih terlalu rapuh untuk menerima kenyataan bahwa kehidupan ini adalah urusan pribadi

Poem

Kosong

Masih saja kosong,

Otak yang kuharapkan bisa sedikit cerdas, nyatanya tetap riuh dengan suara yang tak berbekas

Masih saja bimbang, 

Ratusan ribu detik sebuah perjalanan bahkan tak mengilhami satu katapun 

Sedikit kurenungkan, tentang bagaimana dunia ini membuat aturannya

Bahkan, tentang bagaimana dunia ini akan mati sendiri oleh aturan yang dibuatnya

Tetap saja, kosong,

Ditambah suara dedaunan yang saling menyapa ketika angin menghampiri

Poem

Sampah 

Telah ditemukan sebuah pemikiran di dalam tempat sampah yang siap untuk dibakar. Masih utuh,  cukup segar,  akan tetapi tidak cukup pantas. Barangsiapa ingin melakukan hal yang sama, perhatikan label pada tempat sampah. 

Life · Poem

Rumah Penuh Rindu

Rumah. Selalu begitu. Tidak pernah melupakanmu. Tidak pernah jauh. Tidak pernah lupa mengingatkan.

Ketika kamu jauh. Dia tahu. Bagaimana cara mengembalikan kerinduanmu padanya. Mengingatkan diri, untuk sejenak pulang. Sekedar merebahkan punggung di atas kasur yang sudah lama merindukan tubuhmu.

Rumah. Baunya tidak pernah berubah. Selalu menghipnotis dan memabukkan. Selalu dirindukan di saat lelah. Kemudian, selalu begitu. Menyembuhkan, segala penyakit.

Rumah. Selalu begitu dan, akan tetap begitu. Selalu penuh dengan rindu.