Ketakutanku

Aku ingin menghindar, menjauh, bersembunyi
dan menyimpannya untukku sendiri.
Berbagi, tidak pernah menjadi hal yang mudah,
bagiku.
Karena menemukan diriku sendiri,
kemudian menerimanya,
adalah sebuah kesulitan yang tidak pernah habis aku pertanyakan.
Mencintai adalah aktivitas berbahaya yang tidak ingin aku lakukan,
bukan, bukan karena aku takut terluka,
aku takut menemukan diriku yang lain.
Kesedihan dan segala macam perasaan orang lain terkadang juga menakutiku,
entah bagaimana, aku merasa perasaan itu adalah milikku,
entah bagaimana, aku merasa perlu bertanggung jawab untuk memperbaiki.
Kurasa, pikiranku sudah berhasil menghancurkan diriku sendiri,
atau mungkin aku hanya tersesat,
namun enggan menemukan jalan kembali.
Aku tidak ingin membenci orang lain,
namun terkadang aku perlu melakukannya,
untuk tidak membenci diriku sendiri.

Suatu hari temanku pernah berkata, “Perusahaan yang licik bakal seneng deh mempekerjakanmu.” Kurasa itu benar. Terkadang, aku ingin menyenangkan semua orang. Aku akan diam, untuk hal-hal yang sekiranya tidak menyenangkan atau memilih pergi begitu saja ketika aku sudah tidak bisa menahannya. Berusaha menjadi orang yang baik dan peduli, bahkan untuk orang-orang yang pernah memberikan kenangan tidak menyenangkan. Kukira, aku adalah seseorang yang baik ketika temanku mengatakan hal itu.

Tapi, aku bukan orang yang baik. Serupa dengan aku yang begitu tahu bagaimana cara menyenangkan orang lain, akupun sangat tahu bagaimana cara menyakiti orang lain, sungguh sangat tahu. Aku tahu bahwa setiap orang punya titik lemahnya masing-masing, dan terkadang aku menggunakannya, untuk menyakiti perasaan mereka.

Namun, setiap kali aku berhasil menyakiti perasaan orang lain, aku tahu, akupun juga menyakiti diriku sendiri.

Kekhawatiran Ibuku

Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku sakit, dan merindukan ibuku.
Aku juga sudah lupa kapan terkahir kali aku sakit, dan memberi tahu ibuku.
Aku terlalu sering diam dan kadang berbohong,
supaya ibuku tidak khawatir.
Mungkin di antara anak-anak ibuku, aku lah yang paling membuatnya khawatir.
Waktu kecil, ibuku pikir aku akan tumbuh berbeda dari anak-anak yang lain
karena selalu sakit-sakitan.
Nyatanya aku tumbuh dengan baik.
Meskipun begitu, sepertinya ibuku tidak pernah berhenti khawatir denganku.

Ketika aku membuat khawatir ibuku, aku membayangkan betapa beratnya menjadi ibuku.
Kukira aku sendiri tidak akan pernah bisa tidur nyenyak, jika aku mempunyai anak yang sepertiku.

Dalam hening

Kemudian kita hening,
untuk saling memahami.
Kukira, aku satu-satunya orang yang berusaha memahami
dalam hening,
menyingkirkan segala tanya yang tak perlu.
Kukira, aku satu-satunya orang yang berpura-pura tidak tahu
dan menunggu.

Nyatanya tidak,
sama seperti aku yang melakukannya tanpa kamu menyadari,
kamupun melakukan hal serupa.

Penerjemah

Ibu adalah penerjemah terbaik, untuk jiwa-jiwa baru yang terlahir ke dunia. Ibu akan menerjemahkan segala kegelisahanmu, untuk hal-hal yang tidak bisa kau katakan. Ibu juga akan menerjemahkan dunia dalam hadirnya, dan darinya kamu belajar sejak dini, bahwa dunia ini memang sebuah tempat yang layak untuk ditinggali; sebuah tempat yang cukup adil dan aman untuk menghidupkan mimpi dan merealisasikan mimpi itu sendiri. Akan tetapi, nyatanya, ibu bukan sosok sempurna dan tidak akan pernah menjadi sosok sempurna. Mungkin, karena jiwanya yang telah dipenuhi segala macam kepelikan hidup, Ibu menerjemahkan dan menghadirkan dunia dengan caranya sendiri. Dan tentu, kau akan mendapati dunia dalam versi ibumu.

Akupun mungkin begitu, aku adalah anak ibuku. Yang mungkin, dulupun aku memiliki ibuku sebagai penerjemah terbaik. Entah dalam prosesnya, dunia seperti apa yang telah ibuku terjemahkan dan ajarkan kepadaku. Entah aku masih memiliki gambaran dunia versi ibuku, atau aku telah mampu membenahi gambaran itu seiring aku menjalaninya. Aku terkadang mengkhawatirkan bahwa jiwa anak-anakku tidak pernah pergi. Atau mungkin, memang jiwa anak-anak tidak pernah pergi meninggalkan diri seseorang. Jiwa anak-anak yang kadang perlu untuk dipeluk dan ditenangkan bahwa tidak apa-apa untuk sesekali terluka dan menangis. Jiwa anak-anak yang ingin dibebaskan pula, dari dunia masa lalunya yang mungkin dari kehidupan itu dia mendapati dirinya terluka dan terabai.

Sebagai seseorang yang terus bertumbuh, entah ke arah mana, aku merindukan ibuku sebagai penerjemah terbaikku. Benar, sebuah kerinduan, sesuatu yang nyatanya sudah menghilang. Bukan salah ibuku, jika kemudian kemampuannya menerjemahkan kegelisahanku tak lagi sama, tak lagi hebat. Bagaimanapun, ibu tidak akan pernah kehilangan jiwanya untuk menjadi seseorang yang selalu berusaha mengerti jiwa anak-anaknya, yang tak lagi sama. Aku seharusnya bukan lagi anak-anak yang menjadi pengamat terbaik, namun penerjemah terburuk untuk segala proses kehidupan terjadi di dunia ini. Tapi mungkin, aku masih melakukannnya, seorang pengamat terbaik dan penerjemah terburuk.

Tuhan, malam ini aku sedang ingin bersikap bodo amat. Tidak apa-apa ya.
Besok, aku janji, akan kembali peduli. Jika isi kepalaku sudah mulai berkurang.

Sebuah Perayaan

Akhir pekan ini aku ingin membuat sebuah perayaan, untukku sendiri.Tidak ada undangan pun juga hidangan. Hanya ingin mengundang diri sendiri, dalam berbagai versi. Andaikan aku berubah jadi gila, mungkin aku akan akan memberi kesempatan kepada setiap versi diriku untuk berdiri sendiri, hidup, dengan meminjam ragaku. Andaikan pula cerita mengenai Sybil bukan sebuah fiksi, aku akan mengikuti jejaknya, menceritakan mengenai berbagai versi diri dalam sebuah buku.
Kembali lagi, ke perayaan. Di perayaan kali ini, aku ingin mengenal lebih dekat tentang diriku berserta berbagai versi yang hidup di dalamnya. Mengajak mereka berdialog, untuk menemukan keinginan masing-masing. Mungkin aku akan benar-benar sedikit gila di perayaan kali ini. Tidak apa-apa. Lagipula, selama ini aku tidak pernah benar-benar waras.

Selamat memulai, perayaan!

Kenyamanan dalam Berbuat Baik

Jadi, tulisan ini dimulai dari sebuah curhatan seorang teman yang mendapatkan omongan kurang menyenangkan dari kebaikannya.

Temanku seorang yang memang sangat baik dan seringkali tidak bisa menolak ketika orang lain meminta tolong kepadanya. Orang lain bahkan melabelinya sebagai orang yang baik hati dan polos. Beberapa orangpun tidak segan untuk memanfaatkan kebaikannya, dan mungkin aku juga salah satunya. Terkadang, temanku mengeluhkan dirinya yang tidak merasa enak hati untuk menolak permintaan orang lain atau untuk tidak bersikap baik kepada orang lain. Akupun memaklumi itu, karena aku terkadang memiliki kecenderungan yang sama.

Pada suatu hari, temanku diberi tahu oleh temannya bahwa berbuat baik juga perlu logika, jangan menjadi orang yang terlalu baik karena akan direndahkan oleh orang lain. Karena omongan tersebut, temanku mulai mempertanyakan kebaikannya dan bertanya-tanya apakah yang dia lakukan selama ini salah. Tentu saja aku menjawab bahwa, kebaikannya bukanlah suatu kesalahan. Terlepas kebaikannya itu suatu hal yang logis atau tidak. Bukankah hal itu tergantung dari perspektif mana kita melihatnya? Mungkin bagi orang lain, apa yang temanku lakukan tidak logis dan tidak memenuhi aturan hubungan transaksional antar manusia. Namun sejatinya, dari kebaikan yang dia lakukan, temanku telah mendapatkan apa yang dia butuhkan, sebuah kenyamanan. Mengapa kenyamanan? Karena melakukan kebaikan untuk orang lain lebih membuatnya merasa nyaman daripada harus mengabaikan atau melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan untuk orang lain. Seberapa lelah usaha yang dia keluarkan untuk melakukan kebaikan, hal itu lebih membuatnya nyaman daripada harus menjadi seseorang yang abai dengan kesulitan orang lain.

Terlepas dari bagaimana orang akan menilai, akan lebih baik untuk melakukan sesuatu yang mampu kita toleransi dan hadapi konsekuensinya. Jadi, tidak perlu memaksakan diri untuk menjadi seseorang yang baik atau buruk. Cukup menjadi apapun dengan memilih segala sesuatu yang sekiranya lebih memberikan kenyamanan dalam diri.

All The Bright Places

Sometimes, someone who brings light to our life is someone who needs light for their own life.

I downloaded this film a long time ago, randomly and I didn’t know why I had an interest in this film. At first, I thought this film would be happy and bright, because of the title, All The Bright Places. But in the middle of the movie, I realized that this move is my cup of tea. Dark and depressive.

When I saw the male character, I thought I need to find a guy like him. He’s optimistic and caring yet stubborn and selfish. I love the way he brings the light to the female character’s dark world and of course his taste of the book, Virginia Woolf. He knows how to be stubborn and interesting at the same time. He knows many abandoned places that are special and unique. I love his out of box mind to find them. He said Because there are places that need to be seen. Maybe even small places can mean something, for us. 

During the film, I enjoy how he can brighten up her world which became dark after her sister’s death. That stubborn and out-going personality successfully drags her out of her world. Despite being a troublemaker in school, I thought he doesn’t have any problem with his personal life until I found out that he is vulnerable inside. He has the dark side on his own, which he can’t control. He has a mental issue which he can’t describe. His past relationship made him become someone who has an extreme mood. He can be really happy and energize at a moment, but at another moment he can be pointless and can’t handle himself. 

In the middle until the end of the film, It’s about the male character’s struggle which is overshadowed by the female character’s story at the beginning. I finally understand why he quoted Virginia Woolf, I feel we can’t go through another of those terrible times. His mental state, It’s a defense mechanism that he built to overcome his past. Sometimes, when past events become too much to handle, give us hard time and we want to forget it, our mind will build a shield unconsciously to protect ourselves from getting hurt again and run away from the real problem that we should deal with. Once we built the shield for defense mechanism, It’ll be hard to remove, even though there are million of people who will help us. We are the only one who can remove and destroy it. That’s why, for people with mental illness, most of the time, what they need is understanding and support. Don’t dare to cross their line, unless you know what you’ve crossed.

From this film, I learned that we can’t judge someone’s life from the way they present themselves, the expression, and behavior. We never know what is lying behind their deepest mind and feeling. I had an experience when people told me that I was cheerful and optimistic, but at that moment I was frustrated. I even cut my hair to the shortest hair ever, got blank every time I look up at the sky, and had an idea to give up on life (Hopefully, I don’t have courage to take my own life. Life need courage, but for me to be dead need more courage). There’s the spell from the female character every time she had disappointment and want to run away from reality, We did not remember days, we remembered moments. Maybe, we need to cherish the moment that makes us grateful for life, so every time life gives us lemonade, we can remember that moment. 

The last quote I like from this movie is I feel thousands of capacities spring up in me, It’s from The Waves by Virginia Woolf. And the male character said that You’ve got at least a thousand capacities in you. Even if you don’t think so. Maybe, there are a thousand capacities that live inside ourselves, and we need to figure out how to let them out. 

Rehat

Aku ingin lenyap bersama malam yang senyap atau menjadi dinding yang membisu tegap. Memilah hubungan mana saja yang bisa kupertahankan ternyata tidak cukup. Mungkin permasalahannya bukan mengenai hubungan-hubungan antar manusia beserta ekspektasinya yang tidak bisa kukendalikan untuk tidak ada. Aku saja yang seringkali menggali segala sesuatu terlalu jauh dan lupa jika aku perlu belajar bagaimana cara keluar dan kemudian menutup lubang yang sudah aku gali.
Atau mungkin saja rehat sejenak adalah pilihan terbaik, terutama merehatkan diriku dari ekspektasi diri sendiri yang tidak bisa kupenuhi.