If it’s too good to be true, it’s not true

What kind of spell will you recite as you grow up?

If it’s too good to be true, it’s not true

When everything gets blurry, complicated, the only person who will stand by your side is yourself. Someone will stay, but you can’t be replaced, the way you understand yourself.

Kamu tahu,
rasanya melangkah terlalu jauh untuk hal yang tidak kamu inginkan?
Dan kemudian, menemukan diri kehilangan jati diri, dalam sepi
atau mungkin dalam kegelisahan menolak pagi,
untuk selalu memeluk malam.
Kekacauan orang lain adalah perasaan yang tidak pernah bisa aku tolak,
dan selalu tidak pernah gagal mengurungku.
Aku begitu mudah hancur,
dan aku tidak pernah menginginkannya.

Aku dan sepimu

Dan aku selalu tak sanggup menemukan sepimu.
Andaikan aku bisa menjadi udara yang kau hirup, atau detak jantung dalam malam-malammu yang sepi.
Aku akan memastikan diriku hadir, dalam wujud tenang yang tidak bisa kau sentuh.
Aku akan menjadi gelap dan sunyi malammu, supaya jiwamu menemukan damai untuk terlelap.
Tapi, apalah aku, hanya sisa rindu yang ingin kau pastikan sirna.
Atau mendung di kala senja yang ingin buru-buru kau tinggalkan.

Monolog: Dinamika Relasi dan Perasaan

Aku sering bertanya kepada diriku sendiri, bagaimana jika aku memilih menjadi diriku yang tidak peduli dengan perasaan orang lain? Bagaimana jika aku memilih menjadi diriku yang lebih berani untuk memberontak dan mengecewakan orang lain? Anakn tetapi, di sela-sela pertanyaan itupun aku juga bertanya-tanya, memangnya aku peduli dengan perasaan orang lain? Memang, orang-orang sering mengatakan bahwa aku terlalu peduli dengan perasaan orang lain sehingga seringkali tenggelam dalam lautan perasaan orang lain. Perasaan untuk selalu hadir dan membuat orang lain merasa lebih baik, merasa didengarkan dan merasa diterima.

Kembali lagi, akupun kadang bisa menjadi diriku yang tidak peduli dengan perasaan orang lain. Aku bisa tidak peduli dengan perasaan orang lain dan dengan mudah menyakiti perasaan mereka. Menyakiti dengan sengaja, di bagian yang aku paling tahu seseorang akan merasa tersakiti. Memberontak dan mengecewakan orang lain pada hal-hal yang akupun mulai lelah. Jika kupikir lagi, mengecewakan orang lain tidak harus selalu dilakukan dengan sengaja. Kadang, kekecewaan orang lain muncul begitu saja. Dan, bagiku menerima kekecewaan orang lain terhadap diriku tidak pernah mudah. Jika aku mengingat kembali apa yang telah kulakukan sejuah ini, aku tidak pernah benar-benar berani menghadapi kekecewaan orang lain. Terkadang, aku merasa bahwa aku terlalu berusaha menghidupkan ekspektasi orang lain terhadap diriku. Namun, akupun juga menyadari, bahwa aku tidak benar-benar melakukan suatu hal hanya karena aku ingin menghidupkan ekspektasi orang lain. Aku hanya menyadari ekspektasi orang lain, dan berusaha menyesuaikan dengan apa yang bisa aku upayakan. Atau mungkin, aku tahu imbalan yang akan aku terima ketika menghidupkan ekspektasi orang lain dalam hidupku. Atau mungkin juga, aku mengilhami prinsip bahwa selama aku bisa menjadi seseorang yang diharapkan orang lain, memberikan kebahagian untuk orang lain, bukan hal yang salah untuk diupayakan.

Kehadiran orang lain

Bagiku, bertemu orang baru adalah perkara menemukan diriku sendiri. Menemukan sisi lain dalam diriku yang tidak kusadari. Menemukan cermin yang pas untuk melihat sosok utuh diriku. Menemukan sebuah dinamika hubungan, dinamika kehidupan seseorang yang berbeda di setiap pertemuan, kurasa membuatku semakin menjadi manusia. Menemukan bahagia, ambisi, nilai hidup, rasa kecewa, luka, ketakutan dan banyak hal lagi dalam setiap diri manusia. Menerima kehadiran orang lain secara utuh bersama hal-hal yang sudah melekat dalam dirinya, masa lalunya, dan juga mimpi-mimpinya.

Aku seseorang yang seringkali lebih memilih menghindari ambisi, rasa kecewa dan luka orang lain, atau lebih tepatnya segala sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu namun masih hadir di masa sekarang dalam bentuk urusan yang tidak selesai. Tapi sayangnya, aku seringkali dengan mudah menemukan hal-hal tersebut dalam diri seseorang, sekuat apapun aku menghindar dan merasa tidak peduli. Aku tidak menyukai situasi ketika aku selalu mencoba menyelami dan memahami kehidupan orang lain. Situasi yang kemudian membuatku tenggelam terlalu dalam.

Semakin dewasa, aku semakin pandai mengenali kecemasan dan kekhawatiran orang lain dari mata, dan juga suara mereka. Aku belajar, untuk menghargai dan memahami keduanya. Harapanku, setidaknya aku bisa memberikan sedikit damai. Karena menghapusnya, bukan pada kuasaku.

Dan lagi,
Aku mengisi waktu dengan meringkuk sendiri di kamar, seperti bayi
yang merindukan rahim ibu,
untuk menemukan damai,
atau mungkin menyembunyikan diri.
Mengatakan bahwa hari esok akan baik-baik saja,
bukanlah mantra ajaib dalam agenda harianku,
karena hatiku memaknainya sebagai kebohongan.
Andaikan aku bisa membunuh seseorang,
tentu kamu akan menjadi orang pertama yang kutemui.
Menemukan hari esok yang datang begitu saja,
setelah malam menyimpan gelapnya,
akupun tersadar,
aku bukan siapa-siapa,
di dunia yang begitu luas ini.

Doa

Pada suatu waktu aku memilih untuk berhenti meng-aamiin-kan sebuah doa, karena bagiku seburuk-buruknya seorang manusia tetap berhak atas doa baik.

Terima kasih

Hal-hal yang tidak kamu ketahui sekarang, aku berharap kamu tidak akan pernah mengetahui selamanya. Maka, pergilah dengan hati yang lebih ringan. Dan aku, juga akan pergi dengan apapun yang aku yakini.

Terima kasih.

Orang-orang yang merasakan kehilangan

Ketika orang-orang yang merasakan kehilangan berkumpul, mereka tidak akan membicarakan perihal kehilangan yang sedang mereka alami, maupun kenangan yang tidak pernah berhenti mengusik meski dalam tidur. Mereka akan diam, dan saling memandang. Mereka mengerti, satu sama lain, meskipun diam.

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑