Terima kasih

Hal-hal yang tidak kamu ketahui sekarang, aku berharap kamu tidak akan pernah mengetahui selamanya. Maka, pergilah dengan hati yang lebih ringan. Dan aku, juga akan pergi dengan apapun yang aku yakini.

Terima kasih.

Orang-orang yang merasakan kehilangan

Ketika orang-orang yang merasakan kehilangan berkumpul, mereka tidak akan membicarakan perihal kehilangan yang sedang mereka alami, maupun kenangan yang tidak pernah berhenti mengusik meski dalam tidur. Mereka akan diam, dan saling memandang. Mereka mengerti, satu sama lain, meskipun diam.

After The Funeral

Sudah tiga minggu Bapak nggak ada. Jadi, bagaimana perasaanmu?
Karena sudah mempersiapkan diri untuk waktu yang lama, kurasa aku menjalaninya dengan sangat baik. Atau mungkin bukan karena aku sudah mempersiapkan diri untuk waktu yang lama, akan tetapi karena aku sudah mulai jenuh dengan Bapakku yang tidak kunjung sembuh dan ekspektasinya yang semakin meninggi terhadapku. Entah sudah berapa kali aku menangis diam-diam lalu tertidur, atau menangis keras di depan Ibuku, karena Bapakku.
Aku dan Bapakku adalah dua makhluk keras kepala yang sama-sama memiliki temperamen tinggi. Tidak heran jika kami sering mendebatkan suatu hal, terlebih ketika aku sudah mulai dewasa dan merasa punya kendali atas hidupku sendiri. Di setiap perdebatan, biasanya akan berakhir dengan aku yang pergi tidur lalu menangis atau aku yang akan tiba-tiba pergi makan tapi lebih banyak bengong daripada makan makanannya.
Banyaknya kenangan tidak menyenangkan yang kemudian membekas untuk waktu yang lama, membuat semua kenangan indah bersama Bapak tertutup begitu saja. Dulu, aku tahu, ketika dewasa dan menikah, aku akan menikah dengan laki-laki seperti Bapak. Namun, setelah dewasa, aku menyadari, aku tidak akan pernah bisa bertahan ketika aku menikah dengan laki-laki seperti Bapak. Iya, kenangan buruk itu membawa trauma tersendiri untukku. Aku bahkan pernah berkata kepada Ibuku, kalau aku enggan untuk menikah.
Aku lupa, kalau Bapak adalah orang yang selalu tidur di sampingku ketika aku sakit. Aku lupa, kalau Bapak adalah laki-laki yang tidak malu menangis ketika melihatku sakit. Aku juga lupa, terlepas dari seberapa keras Bapak terhadapku, aku pernah ingin tumbuh dewasa dan menjadi seperti Bapak.
Setelah tiga minggu, kurasa aku masih membutuhkan waktu yang lebih lama untuk benar-benar melepaskan semuanya. Aku terkadang masih merasa mendengar suara Bapak, atau tiba-tiba teringat wajah Bapak. Aku juga masih sering terbangun dari tidur, sama ketika aku sedang memiliki banyak pikiran di kepalaku. Bahkan yang aku cukup merasa percaya diri untuk tidak menangis, akhir-akhir ini aku mulai menangis secara tiba-tiba. Sejauh ini, aku berusaha untuk tidak menyalahkan diriku atau mengingat apapun tentang Bapak. Aku berusaha untuk melepaskan semuanya, kenangan apapun, supaya aku tidak merasa terikat dan kehilangan terlalu lama.
Bagaimanapun, jika aku ditanya bagaimana parasaanku, apakah aku menjalaninya dengan baik? Aku masih percaya diri untuk menjawab bahwa perasaanku sangat baik dan begitu pula aku menjalaninya. Aku masih bisa tertawa dan membicarakan hal-hal menarik dengan orang-orang di sekelilingku. Mungkin, memang ada saat-saat di mana aku akan menangis, akan tetapi aku percaya, aku akan tetap bisa menjalani hidup dengan baik.

Tidak ada yang bisa menjelaskan lebih baik, kecuali rasa itu benar-benar tumbuh dalam dirimu. Seringkali, ketika orang lain mulai sibuk bertanya-tanya, aku kehilangan waktuku untuk menyusun jawaban dan gagal menyadari apa yang sebenarnya memberontak dalam diriku. Akupun tidak bisa serta merta membaca diriku. Atau mungkin, perasaan yang akan muncul di masa depan bukanlah sesuatu yang bisa kuramalkan. Tidak jarang aku terkejut, dengan perasaanku sendiri. Seperti hari ini. Aku menemukannya di saat yang tidak kuinginkan.

Mencuri Dengar

Aku mendengar, mendengar, mendengar
Mengapa aku peduli?
Apakah aku peduli?
Kukira tidak,
aku hanya terlanjur berada pada sebuah situasi,
sambil bertanya-tanya, mencari tahu
berharap akan menemukan jawabaan.
Jika beruntung bisa menarik kesimpulan.
Jika tidak,
aku akan menyimpannya dalam-dalam
lalu membuang di alam bawah sadar,
dan berharap tidak akan muncul,
ketika senyap.

You’re doing good

Dan,
bukankah kebahagiaan akan tetap ada
terlepas seberapa hancur
dan hilang
sebuah kepemilikan,
sesuatu yang nyatanya fana?

Sejauh ini, aku menyukai kehancuranku,
bagaimana aku menghancurkan diri sendiri,
memaksakan kehilangan,
dan kemudian tetap memiliki alasan
untuk berbahagia,
untuk mengapresiasi, bahwa
kehidupan ini layak dijalani,
terlepas dari segala sesuatu
yang membuatku berpikir tidak layak.

Aku hanya perlu menyadari,
bahwa tidak ada yang salah untukku,
memilih jalan yang akan
kuapresiasi sendiri nantinya.

Untukku sendiri,
you’re doing good even though you’re different.

Ketakutanku

Aku ingin menghindar, menjauh, bersembunyi
dan menyimpannya untukku sendiri.
Berbagi, tidak pernah menjadi hal yang mudah,
bagiku.
Karena menemukan diriku sendiri,
kemudian menerimanya,
adalah sebuah kesulitan yang tidak pernah habis aku pertanyakan.
Mencintai adalah aktivitas berbahaya yang tidak ingin aku lakukan,
bukan, bukan karena aku takut terluka,
aku takut menemukan diriku yang lain.
Kesedihan dan segala macam perasaan orang lain terkadang juga menakutiku,
entah bagaimana, aku merasa perasaan itu adalah milikku,
entah bagaimana, aku merasa perlu bertanggung jawab untuk memperbaiki.
Kurasa, pikiranku sudah berhasil menghancurkan diriku sendiri,
atau mungkin aku hanya tersesat,
namun enggan menemukan jalan kembali.
Aku tidak ingin membenci orang lain,
namun terkadang aku perlu melakukannya,
untuk tidak membenci diriku sendiri.

Suatu hari temanku pernah berkata, “Perusahaan yang licik bakal seneng deh mempekerjakanmu.” Kurasa itu benar. Terkadang, aku ingin menyenangkan semua orang. Aku akan diam, untuk hal-hal yang sekiranya tidak menyenangkan atau memilih pergi begitu saja ketika aku sudah tidak bisa menahannya. Berusaha menjadi orang yang baik dan peduli, bahkan untuk orang-orang yang pernah memberikan kenangan tidak menyenangkan. Kukira, aku adalah seseorang yang baik ketika temanku mengatakan hal itu.

Tapi, aku bukan orang yang baik. Serupa dengan aku yang begitu tahu bagaimana cara menyenangkan orang lain, akupun sangat tahu bagaimana cara menyakiti orang lain, sungguh sangat tahu. Aku tahu bahwa setiap orang punya titik lemahnya masing-masing, dan terkadang aku menggunakannya, untuk menyakiti perasaan mereka.

Namun, setiap kali aku berhasil menyakiti perasaan orang lain, aku tahu, akupun juga menyakiti diriku sendiri.

Kekhawatiran Ibuku

Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku sakit, dan merindukan ibuku.
Aku juga sudah lupa kapan terkahir kali aku sakit, dan memberi tahu ibuku.
Aku terlalu sering diam dan kadang berbohong,
supaya ibuku tidak khawatir.
Mungkin di antara anak-anak ibuku, aku lah yang paling membuatnya khawatir.
Waktu kecil, ibuku pikir aku akan tumbuh berbeda dari anak-anak yang lain
karena selalu sakit-sakitan.
Nyatanya aku tumbuh dengan baik.
Meskipun begitu, sepertinya ibuku tidak pernah berhenti khawatir denganku.

Ketika aku membuat khawatir ibuku, aku membayangkan betapa beratnya menjadi ibuku.
Kukira aku sendiri tidak akan pernah bisa tidur nyenyak, jika aku mempunyai anak yang sepertiku.