I want to be a robot

If second life is real, I want to be a robot in my next life. No feeling, no mistake.

Advertisements

Monster doesn’t cry

Sometimes crying over a mellow drama is the best thing I can do to fight the monster,
inside myself,
because monster doesn’t cry.
It has trauma with tears,
and so do I.
I want to train my monster, so
it can be part of myself and
I don’t afraid again,
to look into,
my deepest self.

Take a bath

Today, I am not sure how many times I took a bath. I thought that water could wash away all of these dark and stupid thoughts from my mind.

Now, I want to take a bath again. Because the dark just came.

They called me…

They called me crazy, but hey, I am not crazy I am just not their typical person. They called me insensitive and never give a damn attention to everything around me, but hey they’ve never been become my brain or my heart. They called me a witch, but hey I can be an angel if I care enough about their life. They called me hard to reach, but hey I am just not interesting to you. They called me bla bla bla, but hey they don’t have to do that just to make me realize who I am. I am aware about my true personality, because I’ve never forget to see into myself when people just see the cover of my personality.

Hiruk pikuk di dalam pikiranku

Aku suka berpikir, tentang banyak hal. Di antara banyak hal yang aku pikirkan, aku paling suka berpikir hal-hal abstrak yang cenderung tidak terlihat dan membutuhkan perenungan mendalam, untuk menemukan maknanya. Atau, untuk membuatku menyadari posisiku dalam pemikiranku sendiri.

Sedikit orang yang bisa memahami bahwa aku membutuhkan waktu yang lebih untuk berpikir daripada orang lain atau menyendiri untuk merenungi hidupku. Beberapa orang akan menganggapku sebagai seseorang yang pendiam dan mungkin seseorang yang anti-sosial. Aku tidak merasa seperti itu. Tapi, mungkin saja itu benar.

Aku selalu saja sibuk dengan pemikiranku. Hingga terkadang, aku berhasil memenjarakan diriku pada pemikiran gelapku. Mengunci diriku di sana, dan tidak membiarkan orang lain untuk membukakan kuncinya untukku. Seringkali, aku menyalahkan dunia karena telah mendorongku masuk dalam penjara pemikiranku. Padahal kenyataannya, akulah yang dengan sukarela memasuki penjara itu.

Kadang, pemikiranku berjalan terlalu jauh dan membuatku tersesat. Kadang, aku bahagia dengan apa yang aku putuskan sekarang untuk diriku karena aku telah memikirkannya. Kadang, aku merasa berbeda dengan orang lain karena pemikiranku yang sering tidak mengikuti arus. Tidak jarang aku mengutuk diriku karena pemikiranku. Tapi sekarang, aku begitu mencintai bagaimana aku berusaha memikirkan banyak hal, yang kadang tidak hanya tentang diriku. Dari pemikiranku aku terus bertumbuh dan berusaha memaknai kehidupanku. Kadang, aku berada dalam kehinaan akibat pemikiranku. Meskipun begitu, itulah yang aku dapatkan dari kehidupanku dan dengannya aku bertumbuh. Tidak ada yang tahu, kehidupan esok akan memberikan kejutan apa untuk pemikiranku. Aku hanya harus yakin, kalau aku akan terus bertumbuh, begitupun dengan pemikiranku.

Di perjalanan ini, aku hanya akan meminta apresiasi pada diriku sendiri. Aku tidak ingin membuat diriku merasa perlu untuk dipahami, oleh orang lain. Aku ingin menenggelamkan diriku, pada segala hal yang hanya bisa dipahami olehku.

Kaki-kaki bersepatu dan bersandal

Ada banyak kaki-kaki,
beberapa bersepatu
tetapi sebagian besar bersandal.

Aku sibuk mendengarkan, suara-suara
bukan suara derap langkah,
tapi suara pemilik kaki-kaki.
Ada pemilik kaki-kaki yang saling menyapa, dan
sesekali aku menebak mereka juga tersenyum.

Aku terus menyibukkan diri,
menebak pemilik kaki mana yang sedang bersuara.
Pandanganku berputar,
mengikuti hilir mudik kaki-kaki.
Sesekali aku dibuat penasaran,
ingin melihat wajah pemilik kaki-kaki.
Tidak, aku tidak harus melihatnya,
begini lebih menyenangkan, pikirku.

Lain kali,
aku hanya akan memperhatikan kaki-kaki.