Pikiran Konyol

Mungkin benar bahwa setiap orang setidaknya pernah berpikir satu kali dalam hidupnya untuk bunuh diri. Beberapa hari yang lalu aku memikirkan bagaimana rasa sakit yang akan aku rasakan jika aku mengiris sedikit saja daging di pergelangan tanganku. Bagaimana jika aku melakukannya, apa itu akan cukup untuk membuat waktu berhenti? Konyol memang tapi, pikiran itu benar-benar sempat melintas. Bahkan, aku sudah membayangkan cutter mana yang akan aku gunakan. Sempat terlintas juga untuk mencari di internet bagaimana orang-orang yang bunuh diri melakukannya.

Setelah memikirkannya lagi saat ini aku hanya bisa bergumam “Ah, ternyata pikiran sekonyol itu bisa melintas di pikiranku juga. Ku kira, selama ini aku cukup kuat dan tidak berpikir untuk menyerah. Ternyata tidak.”  Dari pemikiran konyolku aku disadarkan bahwa pemikiran untuk bunuh diri tidak selalu didorong oleh kejadian yang luar biasa menyedihkan, cukup dengan kejadian kecil yang hadir di saat yang tidak tepat. 

Advertisements

Aku tidak menyukainya

Terkadang, ketulusanmu menyakiti. Karena, kamu terlalu yakin menggunakan perspektifmu, bukan perspektifku. Daripada membanjiriku dengan ketulusan, aku lebih ingin dimengerti, sebanyak aku menahan diri untuk tidak menyakitimu. Mungkin dibandingkan bagaimana perasaanku, kamu lebih peduli bagaimana aku melihatmu sebagai “seseorang yang peduli”. Jangan mendekat karena kamu tidak ingin aku lupakan, atau karena kamu tidak ingin aku berpikir kamu melupakanku. Aku tidak menyukainya.

Merencanakan Rumus

Dengarkan! Aku sedang sibuk,
merencanakan rumus paling ampuh,
untuk menerangkan dunia ini padamu.
Supaya kamu, tidak pernah mencelaku,
atau bahkan mengolokku.

Tunggu saja! Besok,
aku akan menjadi si cerdas idamanmu.
Supaya kamu, bisa meyakinkan dunia untuk mempercayaiku,
untuk berpaling sejenak padaku.
Atau setidaknya, kata-kataku bisa menjadi mantra yang menggema,
ketika kamu resah.

Bukan Rangkaian Seri

Aku tidak bisa berjanji untuk selalu bahagia atas kebahagiaanmu. Perasaanku bukan milikku seutuhnya, atau milikmu. Dia adalah milik waktu yang berputar dalam hidupku, milik segala kejadian yang datang dan pergi. Terlepas dari seberapa banyak waktu yang telah kita habiskan bersama, kehidupan tidak pernah mendorong dua orang yang berbeda pada jalan yang sama. Aku tetap dengan hidupku, dan kamupun begitu. Jadi, jika suatu saat aku bersedih ketika kamu sedang berbahagia, jangan jadikan itu alasan bahwa aku telah berkhianat darimu, dari semua waktu yang telah kita habiskan bersama.Karena, itu terjadi begitu saja.

Kadang, Kita tidak Terperangkap

Kadang, terperangkap dalam ruangan yang gelap dan menyesakkan, terjadi bukan karena kita tidak menyadarinya. Bukan karena kita tidak tahu hal itu akan terjadi. Kadang, kita tidak sepenuhnya terperangkap. Karena kadang, kita memang menginginkannya dan memilih untuk memasukinya. Kadang, kita lebih memilih jalan yang sulit. Jalan yang tidak seorangpun ingin melaluinya. Jalan yang seringkali gelap, meskipun di siang hari. Meskipun begitu, kita tetap memilihnya karena, kita mempercayai apa yang kita butuhkan bersembunyi di balik kegelapan.

Hati-hati dengan Kata-Kata yang Indah

Kata-kata yang indah seringkali hanya pembenaran, pengingkaran, penyembuhan, pelampiasan, pelarian, persembunyian dan segala hal yang hanya mampu diwujudkan dalam kata-kata. Nyatanya, apa yang menjadi bijaksana dan dirasa benar dalam kata-kata bukan kebenaran yang boleh diyakini tanpa dipertimbangkan. Kata-kata tidak sepenuhnya pemikiran objektif, yang lahir tanpa misi tertentu dari pemiliknya- misi meyakinkan dunia bahwa apa yang menjadi perspektifnya adalah benar meskipun, kenyataannya adalah pembenaran.  Dan, beberapa orang seringkali merasa tergerak untuk meyakininya, karena kata-katanya dikemas dalam kebijaksanaan. Bagi orang-orang yang mudah terhanyut oleh kata-kata indah yang terkesan bijaksana, aku menyarankan untuk mempertimbangkannya, tidak memujanya lalu menganggapnya sebagai kutipan bijaksana yang sakral dan perlu diingat setiap hari.

Tidak. Mungkin memang tidak begitu. Mungkin apa yang dikatakan orang-orang benar. Mereka maha tahu, tidak perlu bertanya, perihal apa yang aku pikirkan ketika bangun di pagi hari. Aku, siapa?
Memang mereka peduli? Mungkin saja mereka lebih peduli, daripada diriku. Kalaupun sempat, dan aku mengizinkannya, mereka mungkin akan menyuapiku makan. Tiga kali sehari, atau seperti kebiasaanku, sekali sehari saja cukup.
Mereka tidak pernah bertanya, apakah aku mimpi buruk di tidurku semalam. Tidak perlu ditanyakan, katanya urusan pribadi. Mereka mulai pandai memilah dan memilih urusan pribadiku, bagian mereka, dan bagianku sendiri. Suatu hari nanti, apa yang aku rasakan, mungkin bukan lagi urusanku, tidak ditentukan olehku. Mereka yang maha tahu, akan membacakannya secara rutin, sesaat setelah aku bangun tidur.

Kadang, kamu tidak benar-benar tahu seberapa jauh kamu bisa melangkah. Juga, seberapa lama kamu bisa bertahan. Karena, kamu mengakhirinya sebelum tahu. Karena, kamu takut. Kamu takut, jika mencoba lebih jauh bukan seberapa kuat dirimu, tapi, akhir dari kekuatan yang bisa kamu keluarkan. Kematian.