Other

Efek Kopi yang Kontradiksi

Kopi. Hal baru yang mulai kukenal ketika terjaga semalaman menjadi sebuah rutinitas. Sang penyelamat untuk beberapa keadaan, misalnya ketika tugas harus ditumpuk besok pagi. Berkat kopi, apa yang harus kuselesaikan malam ini selesai.

Kopi, membantuku terjaga semalaman bahkan ketika aku sudah tidak ingin terjaga. Setelah minum kopi seringkali aku merasa menyesal, karena pada akhirnya aku tetap terjaga bahkan ketika urusanku sudah selesai. Cukup kontradiksi karena tujuanku minum kopi supaya terjaga tapi, setelah terjaga aku membencinya. Dasar manusia banyak maunya! Setelah keinginanku untuk terjaga dan menyelesaikan segala urusan terpenuhi, aku mulai mengeluh kenapa tidak bisa tidur, perut perih dan diare karena maag, dan pada akhirnya menyalahkan kopi. Kopi yang telah berjasa sebelumnya, tiba-tiba saja menjadi penjahat. Penjahat karena sebuah kenaifan yang menganggap konsekuensi sebuah pilihan hanya apa yang diharapkan tanpa berpikir bahwa konsekuensi yang tidak diharapkanpun berhak hadir. 

Meminum kopi adalah pilihan dan terjaga adalah konsekuensinya bahkan jika konsekuensi tersebut sudah tidak dibutuhkan lagi. Setelah urusanku selesai bukan berarti konsekuensi yang muncul dari meminum kopi akan selesai juga meskipun aku menginginkannya untuk selesai. Memangnya dunia ini permainan yang aturannya ditentukan olehmu? Yang ketika sudah bosan bermain, lalu ingin berhenti atau merubah peraturan.
Setiap pilihan ada konsekuensinya, entah konsekuensi yang  diharapkan atau konsekuensi lain yang tidak diharapkan. Nyatanya hidup tidak berputar pada harapan kita saja, ada banyak hal yang tidak diharapkan tapi ikut andil dalam kehidupan kita. Bagaimanapun, apa yang kita pilih saat ini adalah pertimbangan dari konsekuensi yang kita harapkan dengan kemungkinan munculnya konsekuensi yang tidak diharapkan kecuali, dunia ini adalah miikmu.

Terima kasih untuk kopi malam ini yang menyadarkan kebodohanku.

Advertisements
Life

Karena Saat Itu Masih Muda

Aku pernah sangat jujur dengan guru kelasku waktu di SD karena aku tidak suka cara mengejarnya. Saat itu, aku masih terlalu muda untuk tahu bagaimana cara menyampaikan ketidaksukaanku dan dengan polosnya aku mengatakannya secara langsung. Akhirnya, aku membuat orangtuaku merasa tidak enak hati dengan guru kelasku yang tidak lain adalah tetanggaku sendiri. Aku juga pernah marah ke teman dekatku di SD karena aku jadi orang terakhir yang tahu tentang hubungannya dengan seorang teman laki-laki. Karena terlalu muda, aku berpikir bahwa teman perlu tahu segalanya padahal nyatanya tidak, dan mungkin mulai saat itulah aku menghargai prinsip saling percaya. Jika aku tidak tahu tentangmu maka, kamupun tidak perlu tahu apapun tentangku.

Aku pernah sangat berani menyiramkan air minum ke muka teman laki-laki sekelasku, karena dia menggangguku ketika sedang minum. Aku juga pernah memukul teman laki-laki sekelasku hingga dia menangis, karena dia terlalu penakut untuk melawan olokan teman sekelas yang menjodoh-jodohkan kami. Aku juga pernah berani melawan teman laki-laki sekelasku yang selalu membully teman-teman perempuanku atau menolak permintaan mereka untuk mengerjakan PRnya atau mengingatkan teman sekelasku yang membolos atau merokok di sekitar sekolah. Ya, waktu itu aku masih muda dan begitu berani melakukan hal-hal yang kurasa bisa selesai jika aku berani melawan. Nyatanya, saat ini aku jadi penakut dan mengganggap keberanian hanyalah milik orang yang punya kuasa untuk melawan.

Aku pernah menangis tersedu-sedu di kelas Bahasa Inggris karena masih merasa down karena nilai UTS Kimiaku 25 dan aku harus mengulang mengerjakannya sebanyak 7 kali. Aku juga pernah menangis tersedu di depan kelas, kelas X SMA karena tahu aku akan berpisah dengan sahabat-sahabatku meskipun pada akhirnya temanku mengajukan pindah kelas demi sekelas denganku. Aku bahkan pernah menangis karena kesulitan mengerjakan soal logaritma dan ketakutan kalau hanya aku yang tidak bisa mengerjakannya. Aku dulu sering menginap di rumah teman dekatku, bercerita tentang idol KPOP dan esok harinya menikmati matahari terbit. Aku dulu pernah menyukai temanku dimana tidak ada seorangpun yang tahu soal perasaanku. Lagi-lagi semua terjadi karena saat itu masih terlalu muda, terlalu belum tahu kalau dunia tidak hanya berputar mengitariku dan kenyataan bahwa perasaan ketika dewasa menjadi lebih rumit.

Banyak hal yang terjadi ketika aku masih terlalu muda. Terlalu muda untuk bisa mencerna situasi dengan baik dan terlalu naif untuk percaya bahwa dunia ini begitu baik. Saat inipun, banyak hal yang telah terjadi. Mungkin saja, banyak pemikiran salah yang aku pahami saat ini, yang nantinya akan aku anggap sebagai kesalahan karena masih terlalu muda untuk memahaminya. Sepertinya aku tidak sabar untuk menyadari kesalahanku saat ini nantinya.

Other

Lagu dan Perasaanku yang Tidak Terdefinisi

Kadang terlalu sulit untuk mendefinisikan perasaan yang sedang bergejolak dalam diriku sendiri. Ingin menyebutnya sebagai perasaan sedih nyatanya tidak ada yang menyedihkan, ingin menyebutnya perasaan kecewa tapi nyatanya tidak ada yang tidak sesuai harapan. Perasaan mungkin terlalu kompleks untuk bisa dijelaskan hanya dengan satu ungkapan rasa. Tapi, ada hal sederhana yang selalu berhasil untukku menyadari perasaanku. Memutar lagu secara random. Karena tidak tahu lagu apa yang sesuai dengan perasaanku, maka biasanya aku akan memutarnya secara random dan mendengarkan semuanya. Ketika lagu demi lagu mengalun di telingaku, beberapa diantaranya akan terdengar berbeda, seperti mengatakan apa yang kurasakan. Setelah kudapatkan lagu yang sesuai, biasanya aku akan memutarnya dalam mode repeat untuk menikmati perasaanku yang diceritakan secara berulang-ulang. 

Other

Selamat Tinggal, mungkin.

Beberapa hari ini, ada beberapa hal yang baru aku sadari, dan kemudian aku pikirkan. Dulu, aku menganggap melupakan dan melepaskan seseorang dari hidupku adalah hal yang mudah. Waktu itu, aku merasa bahwa aku bisa benar benar dengan mudah melakukannya tanpa merasa kehilangan. Nyatanya, selama ini aku menutupinya, rasa kehilangan itu. Dan dengan bodohnya, aku menganggap semuanya baik-baik saja, seperti tidak ada yang terjadi dengan diriku. Setelah melepaskan, aku selalu berpikir “Memang hidup begitu, ada yang datang dan ada yang pergi. Ada yang lain yang lebih membuat nyaman untuk menghabiskan waktu dan bercerita.” Mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa memberikan kenyamanan lain di luar batas kemampuanku dan akupun tidak bisa menjanjikan diriku untuk tidak menemukan kenyamanan yang lain. Mungkin ini terasa bodoh dan menyedihkan, tapi aku ingin membiarkan orang lain dengan apa yang membuatnya nyaman. Dan aku, sebagai barang lama harus tahu diri dan pergi untuk memberi kesempatan pada barang baru.

Sejujurnya, hidup memang dipenuhi dengan orang yang datang dan pergi. Dan, bukan salah siapa siapa untuk tidak mempertahankan atau menemukan yang lain. Meskipun semua orang mengatakan “kamu berubah” karena menemukan yang lain, biarlah. Karena, hidup memang begitu. Berubah dan menemukan orang baru.

Other

Random Post

Sekiranya aku meragukanmu, itu tidak lebih daripada aku meragukan diriku sendiri. Mengenai ini dan itu yang tidak bisa aku ceritakan, mungkin alasannya karena aku tidak mempercayaimu. Tapi, itu hanya alasan untuk mengaburkan fakta lain bahwa aku selalu meragukan diriku sendiri. 

Other

Mengenai Kesukaanku

Keadaan ini sepertinya menyadarkanku mengenai kesukaanku, pada sepi. Pada keheningan, tanpa lalu lalang orang-orang yang datang dan pergi. Pada suara musik yang lebih suka aku dengarkan untuk diriku sendiri. Pada jarum jam yang berdetak ketika berpindah dari detik ke detik. Pada suara ketikan yang kadang sulit aku hentikan.

Poem

Langit Sedang Sibuk

Langit sedang sibuk, menyiapkan tempat untuk hujan turun. Butir-butir hujan berjatuhan kesana-kemari seperti cinta pertama yang entah kapan usai. Seirama dengan omelan ibu sore itu, bunyi tak tak tak menyerbu atap dengan berani.

Langit sedang sibuk, mempersiapkan bintang terindah untuk perempuan idamannya. Sang kekasih meminta langit paling indah untuk malam ini. Hai langit, taburkan bintang-bintangmu! Perempuanku inginkan permata yang tak dapat kubeli. Langitpun mengabulkan, ditambahkan bulan purnama di tengah bintang-bintang. Terlihat sang perempuan melengkungkan bibirnya layaknya irisan buah semangka yang tipis menggoda.

Other

Selamat Malam

Dua detik yang bergerak tidak seirama, berbunyi tik tak tik tak tik tak… Radar cemasku seperti semakin bergejolak. Untung saja. Aku tidak menderita gangguan kecemasan. Jika saja iya, mungkin tubuhku sudah berkeringat dingin, perut tiba-tiba sakit, atau ngilu disekujur tubuh.

Apakah ini sudah cukup malam?

Jamku baru 9:49 pm. Kurasa tidak.

Baiklah, mungkin aku harus terjaga sebentar lagi.

Memikirkanmu? Kurasa tidak perlu.

………………………………………………………..

Sekarang jamku 9.54 pm.

Kurasa sudah cukup malam. Selamat malam. Selamat tidur. Semoga tidak hanya mimpimu yang indah. Semoga setelah mimpi yang indah, ada kenyataan yang lebih indah.

Other

Mungkin Saja, 

Hati bisa berubah, kapan saja, tanpa perlu meminta izin. Mungkin hari ini aku ingin menangis saja sejadinya, kemudian di saat yang tidak terduga aku tidak ingin melakukannya, hanya karena segerombolan burung yang berbondong-bondong terbang meninggalkan sarangnya. Mungkin saat ini aku hanya ingin menghilang begitu saja, kemudian sebuah drama yang indah membuatku berpikir untuk melakukan yang sebaliknya. Mungkin saja hari ini aku merasa begitu terkhianati, hingga tak ingin mempercayai dunia yang telah membesarkanku. Kemudian, tanpa terencana seseorang yang asing datang mengatakan kejujuran dan membuatku ingin mempercayainya. Mungkin hari ini aku sangat mencintaimu dan jika bukan kamu aku tidak mau. Tapi, itu hari ini. Masa depan, entah beberapa menit, beberapa jam atau hari kemudian tidak menjanjikan hal yang sama. Mungkin saja, hujan tiba tiba datang membawa seseorang untukku melupakanmu.